Cegah Penyimpangan Sejak Dini, Mendukbangga Sebut Edukasi Kesehatan Reproduksi Harus Lebih Masif di Medsos

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 7 Okt 2026, 19:00
thumbnail-author
Naila Fadhilah
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Mendukbangga/Kepala BKKBN Wihaji (empat dari kiri) dalam peringatan puncak Hari Kontrasepsi Sedunia di Jakarta pada Rabu (7/10/2026) Mendukbangga/Kepala BKKBN Wihaji (empat dari kiri) dalam peringatan puncak Hari Kontrasepsi Sedunia di Jakarta pada Rabu (7/10/2026) (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta -Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga) sekaligus Kepala BKKBN, Wihaji, menegaskan urgensi masifnya penyebaran edukasi kesehatan reproduksi melalui platform media sosial agar masyarakat, khususnya kalangan remaja dan usia produktif, memiliki kesadaran penuh atas otonomi tubuh mereka.

"Sekarang anak baru lahir, sudah pegang handphone, ketika sudah scroll (menggulir) TikTok, yang dibuka oleh orang tua bisa keluar dan dilihat anak. Di situlah pentingnya edukasi kesehatan reproduksi," ungkap Wihaji dalam puncak peringatan Hari Kontrasepsi Sedunia di Jakarta, Rabu, 7 Oktober 2026.

Wihaji menyoroti bahwa perkembangan zaman dan kemajuan teknologi membuat anak-anak usia dini kini sangat mudah mengakses gawai dan bermedia sosial. Kondisi ini rentan membuat mereka terpapar berbagai informasi bebas, termasuk konten dewasa yang tidak sesuai dengan usia perkembangan mereka. Tanpa adanya intervensi edukasi yang tepat, paparan tersebut dikhawatirkan dapat memicu berbagai persoalan serius seperti tindakan pelecehan hingga penyimpangan seksual.

Oleh karena itu, ia menekankan bahwa metode penyampaian edukasi kesehatan reproduksi saat ini harus beradaptasi dengan karakter zaman, mengingat anak-anak masa kini tumbuh berdampingan dengan algoritma digital.
 

Selain isu paparan digital, Wihaji turut meluruskan paradigma masyarakat mengenai program Keluarga Berencana (KB). Menurutnya, konsep KB tidak boleh lagi dipandang sebatas urusan penggunaan alat kontrasepsi semata, melainkan harus dipahami secara holistik mencakup dampaknya terhadap kualitas kesehatan fisik, mental, hingga ketahanan ekonomi keluarga.

"Semangat dari kontrasepsi itu memastikan bahwa apa yang ada pada diri kita bisa turut menjaga kesehatan fisik, mental, dan ekonomi. Itu semangat keluarga berencana yang pendekatannya dengan metode kontrasepsi," jelasnya.

Sejalan dengan prinsip inklusivitas atau no one left behind, metode Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) yang diterapkan harus dirancang agar menjangkau seluruh lapisan masyarakat secara adil, termasuk para penyandang disabilitas.

Sebagai wujud nyata dari komitmen tersebut, Kemendukbangga/BKKBN sebelumnya telah meluncurkan buku panduan inklusif kesehatan reproduksi yang pada tahap awal disajikan dalam format huruf braille bagi penyandang disabilitas netra. Panduan ini mencakup berbagai materi substansial, mulai dari nilai, norma, dan relasi sosial; pemahaman seksualitas dan perilaku seksual; isu kesehatan reproduksi; edukasi perlindungan diri dari kekerasan; hingga informasi layanan dukungan kesehatan reproduksi yang dapat diakses dengan mudah.
 
 
(Sumber: Antara)
 
x|close