Jepang Dikecam usai Simulasi Anti-Teror Gunakan Atribut Muslim

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 22 Sep 2026, 09:04
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Dedi
Editor
Bagikan
Bendera Jepang Bendera Jepang (Antara)

Ntvnews.id, Tokyo - Kementerian Luar Negeri Jepang mendapat sorotan dan kecaman setelah mengunggah dokumentasi simulasi anti-terorisme yang menampilkan pemeran teroris menggunakan atribut yang menyerupai pakaian Muslim.

Dilansir dari Independent, Selasa, 22 September 2026, Kemlu Jepang mengunggah sejumlah foto latihan tersebut pada 10 September 2026. Dalam dokumentasi itu, orang yang berperan sebagai teroris terlihat mengenakan penutup kepala yang menyerupai keffiyeh, kain tradisional yang umum dikaitkan dengan masyarakat Arab.

Salah satu foto memperlihatkan pemeran teroris menggunakan kain menyerupai keffiyeh di kepalanya. Ia terlihat memasukkan kepala pemeran korban penyanderaan ke dalam sebuah tas.

Publik kemudian melontarkan kritik terhadap unggahan tersebut. Penggunaan atribut tersebut dinilai dapat memperkuat stereotip yang mengaitkan masyarakat Arab atau Muslim dengan tindakan terorisme.

"Mendandani karakter teroris dengan pakaian yang mengingatkan pada wilayah tertentu merupakan bentuk diskriminasi," kata salah satu warganet.

"Saya menuntut permintaan maaf dan penghapusan." warganet lain.

Baca Juga: Keinginan Punya Anak Kaum Muda Jepang Merosot Tajam, Hasil Survei Tembus 30 Persen

Kritik serupa disampaikan pengguna media sosial lainnya yang mempertanyakan tujuan Kemlu Jepang menggunakan atribut tersebut dalam latihan anti-terorisme.

"Apa yang ingin dicapai Kementerian Luar Negeri Jepang dengan memicu rasisme? Apakah kualitas staf di Kementerian Luar Negeri benar-benar menurun drastis?" ujar warganet lain.

Pengguna media sosial lainnya menilai pemakaian kostum tersebut "sangat tidak pantas dan menyingung". Ia juga menyebut penggambaran pemeran teroris dalam latihan tersebut mencerminkan "kelompok nasionalis xenophobia yang penuh prasangka".

Setelah mendapat kecaman luas, Kemlu Jepang menghapus foto-foto simulasi tersebut. Pemerintah Jepang kemudian memberikan penjelasan bahwa pakaian yang digunakan pemeran teroris tidak dimaksudkan untuk merepresentasikan kelompok etnis, wilayah, maupun agama tertentu.

Kemlu Jepang juga menyampaikan respons terhadap kesalahpahaman yang muncul akibat dokumentasi latihan tersebut.

"Kami menanggapi berbagai pendapat dengan serius," kata Menteri Luar Negeri Jepang Toshimitsu Motegi dalam konferensi pers.

Ilustrasi Jepang <b>(Antara)</b> Ilustrasi Jepang (Antara)

Menurut Kemlu Jepang, simulasi anti-terorisme tersebut digelar seiring meningkatnya kesadaran mengenai pentingnya edukasi dan kesiapsiagaan bagi warga Jepang yang bepergian atau tinggal di luar negeri.

Latihan tersebut berlangsung di salah satu fasilitas pemerintah di Tokyo dan melibatkan sebuah perusahaan keamanan. Perusahaan itu menjelaskan simulasi dirancang sedekat mungkin dengan situasi nyata dengan mengambil pembelajaran dari serangan teroris di Dhaka, Bangladesh, pada Juli 2016.

Dalam insiden tersebut, kelompok militan Islam menyandera sejumlah orang di Kafe Holey Artisan, Dhaka, selama sekitar 12 jam. Sebanyak 22 orang tewas dalam serangan itu, termasuk tujuh warga negara Jepang.

Jepang sendiri telah menyelenggarakan latihan anti-terorisme semacam itu sejak 2018.

x|close