NTVNews.id , Jakarta - Bentangan kabel semrawut di Jakarta ternyata panjangnya mencapai 6.500 kilometer setara perjalanan 16 persen bumi atau jarak dari Jakarta ke Tokyo.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung menargetkan sekitar 6.500 kilometer kabel semrawut yang masih berada di permukaan dapat ditata dan diturunkan ke dalam tanah secara bertahap.
“Karena memerlukan kurang lebih 6.500 kilometer yang harus ditangani,” ucapnya saat meninjau pembangunan SJUT di Jalan Soepomo, Tebet, Jakarta Selatan, Kamis, 10 September 2026.
Pramono juga menyampaikan target dalam kurun waktu 5 tahun semua kabel tersebut yang berada di permukan bisa diturunkan ke dalam tanah.
"Saya terus terang mem-planning-kan dalam 5 tahun semua kabel-kabel yang ada di permukaan itu bisa diturunkan. Dan kalau itu bisa diturunkan, maka wajah Jakarta pasti akan sangat berbeda. Apakah 5 tahun itu bisa atau tidak," ujarnya.
Selain itu, setidaknya terdapat sekitar 6.500 kilometer jaringan kabel yang perlu ditangani agar tidak lagi memenuhi ruang publik di Jakarta. Karena mencakup pekerjaan yang sangat besar, ia menilai pengaturan kabel tidak hanya dapat mengandalkan kemampuan satu organisasi perangkat daerah.
Pemprov DKI Jakarta perlu menyusun strategi yang lebih panjang dan terintegrasi agar proses penurunan kabel dapat dilakukan secara bertahap dengan target yang jelas. Ia pun telah meminta Kepala Dinas Bina Marga DKI Jakarta untuk menyiapkan perencanaan bersama badan usaha milik daerah (BUMD) yang ada di lingkungan Pemprov DKI.
“Saya sudah meminta kepada Kepala Dinas Bina Marga dan tentunya nanti bersama-sama dengan BUMD yang ada di DKI Jakarta untuk membuat perencanaan yang lebih jangka panjang dan strategis,” ujarnya.
Kabel di Jalan Soepomo, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan (NTVNews.id/Adiansyah)
Dalam penataan jaringan utilitas, Pramono menjelaskan terdapat dua kelompok kabel utama yang berada di ruang publik Jakarta, yakni kabel komunikasi dan kabel listrik.
Keduanya membutuhkan penanganan yang berbeda. Untuk saat ini, kabel komunikasi dinilai lebih memungkinkan untuk segera dipindahkan ke bawah tanah melalui pembangunan Sarana Jaringan Utilitas Terpadu (SJUT).
"Secara prinsip kabel itu ada dua, yang satu untuk komunikasi, yang satu untuk listrik. Memang yang sekarang ini yang bisa yang sudah bisa diturunkan adalah kabel-kabel yang berhubungan dengan komunikasi," katanya.
Sementara itu, penataan kabel yang berkaitan dengan jaringan listrik masih memerlukan waktu dan penanganan lebih lanjut. Meski begitu, proses penurunan kabel komunikasi sudah mulai terlihat di sejumlah lokasi. Salah satunya berada di kawasan Jalan Dr. Soepomo, Jakarta Selatan yang baru saja diulas olehnya.
Pramono Anung (NTVNews.id/Adiansyah)
Tetapi yang sekarang komunikasi hampir di beberapa tempat seperti di tempat Jalan Dr. Supomo ini, sudah berhasil kita turunkan, kita rapikan, imbuhnya.
Politisi PDI Perjuangan tersebut menilai, pemerintah DKI tidak bisa bekerja sendirian. Keterlibatan pihak swasta menjadi salah satu kunci agar target penataan kabel Jakarta dapat direalisasikan. Katanya, jika penataan dilakukan secara menyeluruh dan melibatkan seluruh pihak yang berkepentingan, maka sasaran tersebut bukanlah sesuatu yang mustahil.
“Tetapi kalau ini ditangani secara total, artinya tidak hanya bergantung pada Bina Marga saja, saya yakin itu bisa dilakukan. Maka keterlibatan swasta sangat diperlukan untuk ini secara bersama-sama karena payung hukumnya sudah ada,” katanya.
“Kami meyakini secara bisnis juga menarik sehingga penurunan kabel ini bisa menjadi gerakan bersama yang dilakukan oleh seluruh pemangku kepentingan yang ada di Jakarta ini,” tutup Pramono.
Petugas Suku Dinas Bina Marga Jakarta Barat menangani tiang utilitas miring serta kabel menjuntai yang dikeluhkan warga di Jalan Kamal Raya, Tegal Alur, Kalideres, Kamis (3/9/2026). (ANTARA/HO-Pemkot Jakbar)