Ntvnews.id, Jakarta - Video berdurasi 56 detik yang beredar di Facebook memperlihatkan dua rekaman berbeda. Salah satu bagian menampilkan Dedi Mulyadi atau KDM sedang menyampaikan permintaan maaf serta berbicara kepada Presiden Prabowo Subianto, Kapolri, Kapolda, dan Direskrimum.
Video tersebut kemudian disertai narasi yang mengaitkan pernyataan KDM dengan kunjungannya ke Nusa Tenggara Timur (NTT). Pengunggah menyebut KDM meminta maaf kepada Presiden karena berangkat ke NTT sebelum kedatangan Presiden.
Berikut ucapan KDM yang terdengar dalam video:
“Pak Presiden, Pak Kapolri, Pak Kapolda, Pak Direskrimum, saya tidak bermaksud untuk memperkeruh suasana, saya tidak bermaksud melakukan apapun kecuali ini adalah panggilan jiwa saya. Saya melihat orang-orang kecil menjerit dan menangis bingung apa yang harus mereka lakukan. Semoga ini jalan bagi kita untuk membuka kebenaran. Saya yakin tangisan ini bukan kebohongan. Saya yakin tangisan ini bukan rekayasa bukan akting ini adalah yang sebenarnya mohon.”
Video tersebut juga diberikan narasi:
“Kasian sekali bapak KDM sampai meneteskan Air mata,minta maaf kepada Presiden karena telah mendahuluinya pergi ke NTT...Padahal inilah murni pangilan hati nurani ..Sabar ya Pak”
Lantas, benarkah KDM meminta maaf kepada Prabowo karena mengunjungi NTT lebih dahulu?
Unggahan video yang dinarasikan KDM minta maaf ke Prabowo karena ke NTT mendahului presiden. Faktanya, video tersebut merupakan rekaman lama dari 2024 yang berkaitan dengan kasus Vina Cirebon, bukan kunjungan Dedi Mulyadi ke NTT. (Facebook) (Antara)
Penjelasan:
Penelusuran menunjukkan video tersebut tidak berkaitan dengan kunjungan Dedi Mulyadi ke NTT. Rekaman yang digunakan dalam unggahan merupakan video lama yang membahas kasus pembunuhan Vina Dewi Arsita atau Vina Cirebon.
Video serupa ditemukan di kanal YouTube KANG DEDI MULYADI CHANNEL dengan judul “TANGIS TEGUH TAK TERBENDUNG | MENYESAL PERNAH BERBOHONG SAAT DIPER1KSA”. Video tersebut diunggah pada 10 Juni 2024.
Dalam rekaman tersebut, Dedi Mulyadi menghadirkan seorang saksi bernama Teguh untuk membicarakan perkara pembunuhan Vina Cirebon yang terjadi pada 27 Agustus 2016.
Teguh terlihat menangis ketika menyampaikan penyesalannya karena sebelumnya pernah memberikan kesaksian yang tidak benar saat menjalani pemeriksaan polisi.
Pengakuan tersebut kemudian membuat Dedi Mulyadi ikut menangis. Ia mengungkapkan kesedihan karena kesaksian Teguh berdampak terhadap sejumlah orang yang akhirnya menjalani hukuman dalam perkara tersebut.
Dengan melihat konteks video secara utuh, tidak ditemukan pembahasan mengenai kunjungan Dedi Mulyadi ke NTT ataupun permintaan maaf kepada Presiden Prabowo karena datang lebih dahulu.
Dedi Mulyadi juga menyampaikan melalui akun Instagram resminya bahwa video yang beredar tersebut tidak berhubungan dengan kunjungannya ke NTT.
Dedi Mulyadi memang melakukan perjalanan ke Nusa Tenggara Timur pada Sabtu, 22 Agustus 2026. Dalam kunjungan itu, ia menyerahkan bantuan senilai Rp4 miliar dari berbagai elemen di Jawa Barat untuk membantu memperbaiki rumah warga yang mengalami kerusakan akibat gempa bumi di NTT.
Kesimpulan:
Narasi yang menyebut video tersebut memperlihatkan Dedi Mulyadi meminta maaf kepada Presiden Prabowo karena pergi ke NTT sebelum Presiden adalah hoaks.
Video yang digunakan dalam unggahan merupakan rekaman lama dari 2024 yang membahas kasus Vina Cirebon. Pernyataan KDM dalam video berkaitan dengan kesaksian Teguh dan tidak berhubungan dengan kunjungannya ke NTT.
Dengan demikian, video lama kasus Vina Cirebon yang dikaitkan dengan permintaan maaf KDM kepada Prabowo karena mendahului kunjungan Presiden ke NTT merupakan informasi yang menyesatkan.
Klaim: Video KDM minta maaf ke Prabowo karena ke NTT mendahului presiden
Rating: Hoaks
(Sumber: Antara)
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memberikan keterangan di Bandung. (Antara)