Malaysia Tempuh Jalur ASEAN untuk Atasi Kabut Asap Karhutla dari Indonesia

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 23 Agu 2026, 07:00
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Sejumlah titik api baru kebakaran hutan di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) terlihat dari Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Probolinggo, Jawa Timur, Senin (10/8/2026). Balai Besar TNBTS mencatat luas area terdampak kebakaran di k Sejumlah titik api baru kebakaran hutan di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) terlihat dari Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Probolinggo, Jawa Timur, Senin (10/8/2026). Balai Besar TNBTS mencatat luas area terdampak kebakaran di k (Antara)

Ntvnews.id, Kuala Lumpur - Menteri Luar Negeri Malaysia Datuk Seri Mohamad Hasan menyatakan negaranya akan memanfaatkan mekanisme diplomatik ASEAN untuk mencari jalan keluar atas persoalan kabut asap lintas batas yang ditimbulkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan, Indonesia.

Dampak asap karhutla tersebut mulai dirasakan di sejumlah wilayah Malaysia, terutama Sarawak yang lokasinya berbatasan langsung dengan Kalimantan.

Hasan mengatakan Kementerian Sumber Daya Alam dan Kelestarian Lingkungan (NRES) Malaysia akan segera mengirimkan surat resmi kepada Sekretariat ASEAN. Langkah serupa juga akan dilakukan kepada pemerintah Indonesia.

"Menteri NRES Datuk Seri Arthur Joseph Kurup juga akan mengirimkan surat kepada mitranya di Indonesia," kata Hasan seperti dikutip dari New Straits Times, Minggu, 23 Agustus 2026.

"Kami meyakini ASEAN merupakan mekanisme terbaik untuk menangani berbagai persoalan di antara negara-negara anggota ASEAN. Kami menilai Sekretariat ASEAN akan lebih efektif dalam menangani masalah ini," sambungnya.

Sembilan wilayah di Sarawak juga mencatat kualitas udara dalam kategori tidak sehat. Sri Aman berada di urutan berikutnya dengan API 186, kemudian Sarikei 173, Kuching 171, dan Samarahan 170.

Sibu serta Samalaju masing-masing mencatat API 156. Sementara itu, indeks di Bintulu mencapai 153, Mukah 125, dan Kapit 108.

Persoalan kabut asap juga menjadi perhatian dalam hubungan Malaysia dan Brunei. Pada Kamis (20/8), Komisaris Tinggi Malaysia untuk Brunei Datuk Mohd Aini Atan mengatakan isu kabut asap yang memengaruhi sejumlah negara ASEAN kemungkinan menjadi salah satu agenda pembahasan Perdana Menteri Malaysia Datuk Seri Anwar Ibrahim dengan Sultan Brunei Sultan Hassanal Bolkiah.

Baca Juga: Dari Meja dan Kursi Baru, Tumbuh Semangat Belajar Siswa SDN Batu Cermin

Menurut Aini, kabut asap kini menjadi persoalan yang menjadi perhatian bersama bagi kedua negara. Isu tersebut dibahas dalam Konsultasi Tahunan Pemimpin Malaysia-Brunei ke-27 atau ALC-27 yang berlangsung pada Sabtu, 22 Agustus 2026.

Sebelumnya, rangkaian pertemuan kedua negara telah diawali melalui Malaysia-Brunei Exchange of Letters ke-27 atau EOL-27 pada Jumat, 21 Agustus 2026.

Malaysia termasuk negara yang terkena dampak kabut asap akibat karhutla di Indonesia. Asap yang terbawa angin dari sejumlah wilayah, terutama Kalimantan, menyebabkan beberapa kawasan di Malaysia mengalami penurunan kualitas udara.

Kabut asap lintas batas merupakan persoalan yang berulang di Asia Tenggara, khususnya Malaysia dan Singapura, yang secara geografis berdekatan dengan Indonesia.

Salah satu periode terparah terjadi pada 1997-1998 dan 2015. Saat itu, puluhan orang meninggal dunia dan ribuan warga Indonesia, Malaysia, serta Singapura harus menjalani perawatan di rumah sakit akibat gangguan pernapasan dan masalah jantung.

HIGHLIGHT

x|close