Indonesia-Malaysia Perkuat Kerja Sama Lintas Batas Atasi Kabut Asap Karhutla

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 21 Agu 2026, 05:00
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Sejumlah titik api baru kebakaran hutan di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) terlihat dari Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Probolinggo, Jawa Timur, Senin (10/8/2026). Balai Besar TNBTS mencatat luas area terdampak kebakaran di k Sejumlah titik api baru kebakaran hutan di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) terlihat dari Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Probolinggo, Jawa Timur, Senin (10/8/2026). Balai Besar TNBTS mencatat luas area terdampak kebakaran di k (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Indonesia dan Malaysia sepakat memperkuat koordinasi lintas batas untuk menangani kabut asap yang muncul akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kalimantan.

Menteri Sumber Daya Alam dan Lingkungan Malaysia Arthur Joseph Kurup menilai kolaborasi antarnegara ASEAN menjadi langkah penting untuk menghadapi persoalan kabut asap yang berdampak lintas wilayah.

"Baru-baru ini kami menggelar rapat ASEAN, saya bertemu dengan semua kolega saya, seperti Menteri Lingkungan Indonesia dan kami telah sepakat meningkatkan kerja sama," kata Arthur, seperti dikutip dari Bernama, Jumat, 21 Agustus 2026.

Menurut Arthur, bentuk kerja sama tersebut antara lain dilakukan melalui pemantauan titik panas atau hotspot di wilayah yang rawan kebakaran. Selain itu, koordinasi akan melibatkan lebih banyak aparat penegak hukum guna mencegah terjadinya pembakaran terbuka.

Malaysia, lanjut Arthur, juga membuka kemungkinan berbagi akses wilayah udara dengan Indonesia apabila dibutuhkan untuk operasi modifikasi cuaca dalam rangka mengurangi dampak kabut asap.

"Kita juga bisa berbagi wilayah udara jika perlu melakukan operasi penyemaian awan [operasi modifikasi cuaca] mungkin berbagi aset juga," kata dia.

Baca Juga: Menteri PPPA: Belum Semua Parpol Penuhi Kuota 30 Persen Caleg Perempuan

Arthur menegaskan bahwa kolaborasi regional sangat diperlukan dalam menghadapi persoalan tersebut. Terlebih, Malaysia tengah mempersiapkan diri menghadapi fenomena super El Nino yang diperkirakan memicu kondisi lebih kering dan berkurangnya curah hujan.

"Dan itu akan menyebabkan lebih banyak kabut asap. Tapi, kita perlu tahu bahwa kabut asap adalah masalah yang tak dihadapi satu negara, ini masalah kawasan," ujar dia.

"Apa yang terjadi di negara tetangga kita akan berdampak ke kita," imbuh Arthur.

Atas kondisi tersebut, Arthur menilai kerja sama antarnegara di kawasan harus terus diperkuat karena kabut asap merupakan persoalan regional yang tidak dapat ditangani oleh satu negara saja.

Dampak kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan juga telah dirasakan di sejumlah wilayah Malaysia.

Beberapa daerah di negara bagian Sarawak bahkan mencatat kualitas udara dalam kategori tidak sehat. Di antaranya Serian dengan indeks polusi udara mencapai 195, Kuching 191, Sri Aman 178, serta Samarahan 175.

HIGHLIGHT

x|close