Menkes Cek Dugaan ‘Black Campaign’ RS Penang Selebgram Fahira Almira

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 14 Agu 2026, 18:40
thumbnail-author
April
Penulis
thumbnail-author
Tim Redaksi
Editor
Bagikan
Fahira Amira Fahira Amira (Instagram)

Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin merespons kegaduhan di media sosial terkait konten selebgram Fahira Almira yang membandingkan layanan kesehatan di Indonesia dengan rumah sakit di Penang, Malaysia.

Konten tersebut menuai kontroversi lantaran muncul dugaan adanya praktik black campaign yang menyudutkan fasilitas kesehatan (faskes) dalam negeri.

Menanggapi hal tersebut, Menkes Budi Gunadi Sadikin menyatakan bahwa pihaknya akan menelusuri kebenaran informasi yang beredar. Ia mengaku sejauh ini belum melihat langsung konten yang menjadi sorotan publik tersebut.

"Saya belum lihat, tapi nanti saya akan catat, nanti aku cari," ujar Budi Gunadi, 14 Agustus 2026.

Polemik ini bermula dari unggahan Fahira Almira yang menceritakan pengalaman medisnya. Fahira mengaku sempat mendatangi tiga rumah sakit berbeda di Indonesia dan mendapatkan diagnosis radang usus buntu (apendisitis).

Namun, saat melakukan pemeriksaan ulang di sebuah rumah sakit di Penang, Malaysia, ia mengeklaim dokter di sana menyatakan dirinya tidak mengalami usus buntu.

Baca Juga: Klarifikasi Fahira Amira soal Perbedaan Diagnosis Usus Buntu di Indonesia dan Penang

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin dalam konferensi pers terkait rancangan Perpres Tata Kelola Penyelenggaraan KDKMP yang digelar di Jakarta, Selasa (28/7/2026). <b>(Antara)</b> Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin dalam konferensi pers terkait rancangan Perpres Tata Kelola Penyelenggaraan KDKMP yang digelar di Jakarta, Selasa (28/7/2026). (Antara)

Dalam narasinya, Fahira menyebutkan bahwa hasil pemeriksaan di Penang menunjukkan ukuran appendix-nya mencapai 8,1 mm—di atas ukuran normal rata-rata 6 mm. Meski demikian, dokter di Malaysia disebut menyimpulkan kondisi tersebut disebabkan oleh fecalith atau tumpukan tinja keras yang menyumbat, bukan infeksi usus buntu yang memerlukan tindakan bedah segera.

Unggahan tersebut sontak memicu perdebatan panas. Banyak pihak, terutama tenaga medis di Indonesia, menilai narasi yang dibangun Fahira cenderung menggiring opini negatif terhadap kualitas kedokteran di tanah air. 

Sorotan tajam tertuju pada dugaan adanya kerja sama komersial atau endorsement antara sang selebgram dengan pihak rumah sakit di Penang. Hal ini diperkuat dengan dicantumkannya nama rumah sakit tujuan secara jelas dalam konten tersebut. Netizen pun mendesak Kementerian Kesehatan untuk bertindak tegas jika terbukti konten tersebut adalah iklan terselubung yang bertujuan menjatuhkan reputasi medis Indonesia.

"Coba @kemenkes_ri @bgsadiki investigasi terkait postingan seperti ini, apakah asli atau memang hanya iklan dari RS di Malaysia. Kalau hanya iklan, harusnya dari Kementerian bisa memberikan protes dengan negative campaign seperti ini," tulis salah satu warganet di kolom komentar.

Sejumlah praktisi kesehatan turut bersuara dan menyayangkan penyampaian pengalaman pasien yang tidak utuh secara klinis. Para ahli menilai, perbedaan diagnosis adalah hal yang mungkin terjadi dalam dunia medis, namun menyajikannya sebagai bahan perbandingan tanpa keterbukaan data medis lengkap dianggap berpotensi menyesatkan publik.

HIGHLIGHT

x|close