Ntvnews.id, Washington D.C - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali mengungkapkan keyakinannya bahwa konflik antara Washington dan Iran akan segera berakhir. Menurut Trump, Iran tidak akan mampu bertahan lebih lama apabila peperangan terus berlangsung.
"Saya rasa perang ini akan segera berakhir. Menurut saya, mereka tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi," kata Trump yang merujuk pada Iran saat berbicara kepada wartawan di Ruang Oval Gedung Putih, seperti dilansir dari Reuters, Sabtu, 8 Agustus 2026.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah Trump sebelumnya mengungkapkan bahwa dirinya lebih mengutamakan tercapainya kesepakatan dengan Teheran ketimbang memilih opsi militer. Kendati demikian, ia tetap memperingatkan bahwa penggunaan kekuatan bersenjata masih mungkin dilakukan apabila jalur diplomasi menemui jalan buntu.
"Saya lebih memilih untuk mencapai kesepakatan, karena saya tidak ingin membunuh orang," ujar Trump dalam sebuah acara di Las Vegas pada Kamis, 6 Agustus 2026.
Trump juga menyebut pemerintahannya telah melakukan "pembicaraan yang sangat baik" dengan Iran dalam proses negosiasi yang berlangsung sepanjang pekan ini. Pernyataan tersebut menumbuhkan optimisme bahwa konflik yang telah berlangsung selama sekitar lima bulan dapat segera dihentikan.
Baca Juga: Media Israel Ejek Ancaman Trump ke Iran
Dalam kesempatan berbicara dengan wartawan di Ruang Oval, Trump turut mengisyaratkan kemungkinan tercapainya kesepakatan "segera" mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz. Ia mengaku dirinya "terlibat" dalam proses perundingan yang bertujuan membuka kembali jalur pelayaran strategis tersebut.
"Saat ini kondisinya bisa dibilang terbuka. Anda tahu, kita memiliki hal yang disebut blokade, yang dipimpin Angkatan Laut AS, dan kita mengendalikannya," ucapnya.
Trump kemudian menjelaskan potensi ancaman yang dapat menghambat pelayaran di kawasan tersebut. Menurut dia, Iran masih memiliki sejumlah cara untuk mengganggu jalur laut, termasuk melalui serangan atau pemasangan ranjau.
"Mereka selalu bisa menembakkan sesuatu. Mereka selalu punya cara, atau menebar ranjau, dan jika ada satu saja ranjau di sana, situasinya menjadi kacau karena orang-orang tidak mau mengambil risiko membawa kapal bernilai miliaran dolar dan secara tidak sengaja terkena ranjau," kata Trump merujuk pada Iran.
"Saya terlibat dalam negosiasi ini. Saya pikir perkembangannya baik. Kesepakatannya bisa tercapai segera," cetus Presiden AS tersebut.
Trump Bantah Kekhawatiran soal Stok Amunisi AS
Presiden AS Donald Trump menggelar konferensi pers di Kompleks Kepresidenan sebagai bagian dari KTT NATO ke-36 para Kepala Negara dan Pemerintahan di Ankara, Turkiye, pada 8 Juli 2026. (Antara)
Dalam pernyataan terbarunya, Trump juga kembali membantah kekhawatiran mengenai ketersediaan amunisi Amerika Serikat. Namun, ia mengakui bahwa militer AS memang menghadapi kendala terkait pasokan beberapa jenis persenjataan tertentu.
Reuters sebelumnya melaporkan pada Selasa, 4 Agustus 2026 bahwa militer AS telah menggunakan sebagian besar stok global rudal jarak jauh dengan tingkat akurasi tinggi selama konflik dengan Iran yang berlangsung selama lima bulan.
Ketika ditanya mengenai kondisi persediaan amunisi AS, Trump mengatakan negaranya memiliki stok yang nyaris tidak terbatas untuk kategori senjata tertentu. Di sisi lain, ia mengakui bahwa beberapa jenis persenjataan lainnya memang memiliki persediaan yang lebih terbatas.
Baca Juga: Menhut Sampaikan Salam ASRI dari Prabowo saat Resmikan Persemaian Sriwijaya Kemampo
"Kami memiliki jenis amunisi tertentu yang sangat kuat, yang pasokannya tak terbatas, atau bisa dibilang hampir tak terbatas. Kami juga memiliki jenis-jenis lainnya yang pasokannya agak terbatas," kata Presiden AS itu.
Trump menambahkan bahwa industri pertahanan Amerika Serikat kini tengah meningkatkan kapasitas produksi dengan membangun sejumlah fasilitas baru. Pabrik-pabrik tersebut di antaranya ditujukan untuk memproduksi rudal Patriot dan Tomahawk.
Arsip foto - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengadakan konferensi pers di Gedung Putih Washington DC, Amerika Serikat. /ANTARA/Anadolu Ajensi/pri. (Antara)