Ntvnews.id, Washington D.C - Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) JD Vance mengakui proses perundingan dengan Iran berlangsung sangat sulit dan penuh tantangan. Kendati demikian, ia meyakini negosiasi tersebut pada akhirnya akan menghasilkan kesepakatan yang menguntungkan Washington.
Dalam wawancara dengan Fox News, Vance menyatakan kesepakatan yang memberikan manfaat bagi masyarakat AS tetap dapat dicapai meski prosesnya membutuhkan waktu panjang dan menghadapi berbagai hambatan.
Ia menggambarkan negosiator Iran sebagai "orang-orang yang luar biasa sulit", sehingga jalannya perundingan menjadi rumit dan sulit diprediksi.
"Ini akan rumit dan butuh waktu untuk sampai ke sana," kata Vance, seperti dikutip dari Al Jazeera, Jumat, 7 Agustus 2026.
Vance mengatakan proses negosiasi tidak selalu bergerak maju secara konsisten. Menurutnya, terdapat kondisi ketika pembicaraan mengalami kemajuan, tetapi kemudian kembali menemui kemunduran sebelum dapat dilanjutkan.
"Saya benar-benar berusaha melakukannya, tapi... terkadang itu membutuhkan satu langkah maju, dua langkah mundur, lalu tiga langkah maju, dan satu langkah mundur. Saya tentu memahami bahwa rakyat Amerika mungkin melihat ini dan berkata 'Yah, sepertinya kita membuat kemajuan'. lalu ternyata tidak. Kenyataannya adalah, pertama, orang Iran adalah orang-orang yang sangat sulit," ujarnya.
Baca Juga: Media Israel Ejek Ancaman Trump ke Iran
Menurut Vance, kondisi internal pemerintahan Iran yang terfragmentasi turut membuat proses perundingan semakin kompleks.
"Jadi ada orang-orang di dalam sistem mereka yang ingin perang berakhir. Tapi ada juga orang-orang di dalam sistem mereka, yang merupakan radikal gila, yang ingin perang berlanjut. Tugas kita adalah menavigasi hal itu dan mendapatkan hasil terbaik bagi rakyat Amerika dan presiden Amerika Serikat," ucap Vance.
Vance menegaskan pemerintah AS akan memanfaatkan seluruh instrumen yang tersedia untuk memastikan proses pembicaraan menghasilkan penyelesaian yang sesuai. Instrumen tersebut mencakup kekuatan militer, ekonomi, hingga jalur diplomasi.
Ia juga menyebut kesepakatan dengan Iran berpotensi memberikan dampak positif terhadap kondisi ekonomi AS, termasuk harga minyak, sekaligus memastikan Teheran tidak memiliki senjata nuklir.
Roket pengangkut Jielong-3 Y12 lepas landas dari perairan lepas pantai Kota Haiyang, Provinsi Shandong, China timur, pada 5 Agustus 2026. Roket tersebut membawa satelit hiperspektral kembar Oriental Smart Eye (OSE), yakni Hyperspectral-01 dan Hypersp (Antara)
"Harga minyak, saya rasa, hari ini sekitar US$79. Harga minyak itu akan turun dan tetap rendah. Iran (juga) tidak akan pernah memiliki senjata nuklir, dan Amerika Serikat akan berada dalam posisi yang lebih kuat," tuturnya.
Vance kembali menyatakan keyakinannya bahwa proses tersebut akan membawa hasil yang menguntungkan bagi AS. Ia menegaskan seluruh sumber daya yang dimiliki Washington akan digunakan untuk mencapai penyelesaian yang dianggap tepat.
"Saya dapat mengatakan dengan yakin bahwa ini akan mengarah ke arah yang baik untuk Amerika Serikat. Kami akan menggunakan semua alat yang kami miliki, baik militer, ekonomi, dan diplomatik, untuk memastikan kami membawa masalah ini ke penyelesaian yang tepat," tukas Vance.
Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) JD Vance. ANTARA/Celal Gunes/Anadolu/pri. (Antara)