Perang AI China-AS dalam Pengembangan Militer untuk Rancang Serangan Udara Skala Besar

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 6 Agu 2026, 07:40
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Ilustrasi. Kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). (Foto: Istimewa) Ilustrasi. Kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). (Foto: Istimewa)

Ntvnews.id, Beijing - Persaingan antara China dan Amerika Serikat dalam pengembangan kecerdasan buatan (AI) untuk kepentingan militer semakin meningkat. Beijing kini secara terbuka memperluas pemanfaatan AI guna mendukung perencanaan operasi serangan udara berskala besar.

Dilansir dari South China Morning Post, Kamis, 6 Agustus 2026, sistem tersebut dikembangkan untuk menunjang latihan militer yang melibatkan ratusan target dan puluhan formasi.

Media pemerintah China melaporkan Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) telah memanfaatkan sistem berbasis AI untuk menyusun strategi operasi udara yang melibatkan lebih dari 100 unit tempur. Informasi tersebut diungkap dalam sebuah film dokumenter yang ditayangkan televisi pemerintah.

Sistem yang disebut sebagai sistem perencanaan serangan cerdas itu dirancang untuk membantu komandan dan pilot dalam menentukan prioritas sasaran, mengoordinasikan gelombang serangan, serta membagi tugas kepada setiap unit yang terlibat. CCTV melaporkan sistem tersebut telah digunakan berkali-kali.

Pengungkapan ini menjadi salah satu gambaran langka mengenai pemanfaatan AI dalam operasi militer China. Langkah tersebut mencerminkan upaya Beijing mengintegrasikan teknologi cerdas ke dalam kemampuan tempur PLA melalui konsep peperangan sistem-dari-sistem.

Baca Juga: Kapolri Soroti Peran Strategis Media di Era Artificial Intelligence

Melalui pendekatan tersebut, berbagai platform dan sistem persenjataan akan dihubungkan dalam satu jaringan berbasis kecerdasan buatan agar dapat beroperasi secara terkoordinasi.

Program peperangan udara itu dikembangkan oleh tim yang dipimpin Kolonel Senior Deng Jianping untuk mendukung latihan yang melibatkan formasi tempur dalam jumlah besar dengan beragam jenis pesawat.

"Dalam latihan angkatan udara skala besar, lebih dari 100 unit taktis, dengan mengandalkan perencanaan sistem ini, mengoordinasikan serangan mereka, mencapai ketepatan waktu sepersekian detik. Biarkan perangkat lunak menentukan peralatan, menentukan operasi, dan menentukan medan perang," kata Deng.

Presiden China, Xi Jinping.  <b>(Antara)</b> Presiden China, Xi Jinping. (Antara)

Pada Kamis lalu, Presiden China Xi Jinping juga menekankan pentingnya percepatan modernisasi militer berbasis teknologi saat memimpin sesi studi Politbiro. Ia menyatakan PLA harus "memperkuat penerapan militer teknologi cerdas tak berawak, memperdalam pengembangan dan penerapan sistem informasi jaringan, dan secara bertahap membangun sistem militer cerdas."

Sebelumnya, fokus pengembangan AI militer China lebih banyak diarahkan pada teknologi seperti kawanan drone. Kini, Beijing mulai memperluas penerapannya ke sistem yang mendukung operasi udara berskala besar yang tetap melibatkan pilot manusia.

Di sisi lain, Amerika Serikat juga terus mengembangkan AI untuk kepentingan pertahanan. Namun, pendekatan Washington melalui program seperti Project Maven lebih difokuskan pada peningkatan kesadaran situasional di medan perang serta analisis intelijen, berbeda dengan sistem China yang diarahkan untuk membantu perencanaan serangan udara dalam skala besar.

HIGHLIGHT

x|close