Ntvnews.id, Washington D.C - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengklaim negaranya telah mempersiapkan serangan besar-besaran terhadap Iran sebelum proses negosiasi antara kedua negara disebut mulai berjalan.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump ketika membahas persoalan Iran dan situasi di Selat Hormuz dalam wawancara bersama Fox News yang dirilis pada Selasa, 4 Agustus 2026.
"Kami sudah menyiapkan serangan terbesar sejak Perang Dunia II, dan mereka menelepon saya, dan dengan sangat sopan bilang, 'Bisa kita bicara? bisa kita bicara?', mereka tidak ingin [serangan] dan saya jawab 'ya kita, bisa bicara'," kata Trump, dikutip dari Fox News, Jumat, 7 Agustus 2026.
Trump kemudian mengungkapkan keinginannya agar persoalan dengan Iran segera diselesaikan.
"Ayo selesaikan masalah ini. Akhirnya, mari selesaikan masalah ini."
Menurut Trump, langkah untuk menyelesaikan persoalan nuklir Iran semestinya telah dilakukan oleh presiden-presiden AS sebelumnya. Ia menilai tindakan tersebut dapat mencegah Teheran memiliki senjata nuklir.
Baca Juga: Media Israel Ejek Ancaman Trump ke Iran
"Dan saya melakukan sesuatu yang harus saya lakukan karena jika mereka memiliki senjata nuklir, seluruh dunia ini akan jadi tempat yang berbeda," ujar Trump.
Trump juga memperingatkan Iran bahwa Amerika Serikat akan kembali melancarkan serangan besar apabila Teheran menarik diri dari proses perundingan atau tidak tercapai kesepakatan.
"Saya tak punya pilihan. Mereka tak boleh memiliki senjata nuklir," imbuhnya.
Isu program nuklir Iran menjadi salah satu alasan utama AS bersama sekutu dekatnya, Israel, melancarkan serangan terhadap Iran pada akhir Februari. Teheran kemudian membalas dengan menyerang Israel serta sejumlah pangkalan militer AS yang berada di kawasan Timur Tengah.
Sebuah spanduk yang menampilkan Presiden AS Donald Trump serta memuat pesan-pesan dipajang di depan rudal balistik Zolfaghar dan Zolghadr yang dipamerkan di Lapangan Azadi, Teheran, ibu kota Iran, pada 2 Agustus 2026. (Antara)
Konflik tersebut berlangsung selama beberapa bulan sebelum Washington dan Teheran menyepakati gencatan senjata pada April. Kesepakatan tersebut kemudian diperpanjang tanpa batas waktu. Meski demikian, pasukan AS masih melakukan serangan terhadap Iran selama periode tersebut.
Pada Juni, AS dan Iran kembali mencapai kesepakatan melalui nota kesepahaman (MoU). Kesepakatan itu mencakup penghentian pertempuran serta pengaturan terkait pengendalian Selat Hormuz.
Namun, kurang dari sepekan setelah MoU mulai diterapkan, AS kembali melancarkan serangan ke Iran. Teheran pun merespons dengan serangan balasan.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump berbicara kepada pers di Gedung Putih, Washington D.C., Amerika Serikat 1 Mei 2026.(ANTARA/Anadolu/pri) (Antara)