Keracunan MBG di Papua: BGN Pastikan Evaluasi dan Penanganan Maksimal
NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 7 Agu 2026, 16:35
Naila Fadhilah
Penulis
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Wakil Kepala BGN Trenggono saat meninjau lokasi dugaan insiden keamanan pangan di Depapre, Jayapura, Papua, Kamis (6/8/2026) (Antara)
Ntvnews.id, Jakarta -Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Mayjen TNI Trenggono menghentikan sementara operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Kasih Iman Samuel Papua, buntut dugaan insiden keracunan pangan pada Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menimpa ratusan penerima manfaat di Kabupaten Jayapura, Papua.
Penegasan tersebut disampaikan Trenggono saat meninjau langsung fasilitas kesehatan dan lokasi SPPG penyedia makanan bersama Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Ribka Haluk pada Kamis (6/8/2026).
"Tadi saya langsung berkunjung ke SPPG yang menangani ini, memang banyak sekali kekurangan. Saya sudah tegur juga koordinator wilayah, mengapa pengawasan seperti ini masih terjadi. Sementara kita suspend (hentikan sementara) dulu, kita cek dan investigasi di mana letak kesalahannya, apakah pada standar operasional prosedur atau bahan bakunya," ujar Trenggono dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (7/8/2026).
Data BGN hingga Kamis sore mencatat sebanyak 219 penerima manfaat harus mendapatkan perawatan medis akibat insiden penyajian makanan yang terjadi pada Rabu (5/8/2026) pagi tersebut.Para pasien tersebar di sejumlah fasilitas kesehatan, di antaranya 83 pasien di RSUD Yowari, 61 pasien di Puskesmas Depapre, 24 pasien di RS Abepura, 21 pasien di RS Kementerian Kesehatan, 20 pasien di RS Dian Harapan, serta beberapa puskemas dan rumah sakit lainnya. Delapan pasien di antaranya telah diperbolehkan pulang, sementara tiga pasien dirujuk ke RS Kemenkes untuk tindakan medis lanjutan.
Guna memastikan kondisi korban, Trenggono menyisir sejumlah titik penanganan, termasuk Aula Kantor Distrik Depapre dan Puskesmas Depapre, untuk menjamin seluruh pasien memperoleh pelayanan kesehatan yang optimal sekaligus memberikan dukungan moril kepada keluarga korban.
Terkait pemicu keracunan, penelusuran awal menduga adanya penurunan kualitas pada menu tempe bacem akibat proses pengolahan yang dilakukan terlalu dini. Kendati demikian, BGN masih menunggu hasil uji laboratorium resmi.
"Hasil penelusuran awal mengarah pada dugaan adanya penurunan kualitas salah satu menu, yakni tempe bacem yang dimasak terlalu dini. Namun demikian penyebab pasti kejadian masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium," jelas Trenggono.
BGN berikrar akan menjadikan insiden ini sebagai bahan evaluasi total untuk memperketat sistem pengawasan mutu dan keamanan pangan pada seluruh rantai penyelenggaraan Program MBG ke depan.