BRIN Gandeng UGM Ciptakan Teknologi Benih Bawang Putih Super

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 3 Agu 2026, 23:01
thumbnail-author
Naila Fadhilah
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Ilustrasi - pelaku usaha pangan di Babel tambah pasokan bawang putih Ilustrasi - pelaku usaha pangan di Babel tambah pasokan bawang putih (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Upaya melepaskan diri dari ketergantungan impor bawang putih terus digenjot oleh pemerintah. Merespons tingginya ancaman penyakit pada tanaman, Pusat Riset Hortikultura Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) resmi menggandeng Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk mengembangkan teknologi produksi benih sehat dan bermutu. Inovasi mutakhir ini tergabung dalam Program Riset dan Inovasi Strategis (PRIS).

Kepala Pusat Riset Hortikultura BRIN sekaligus Penanggung Jawab PRIS Bawang Putih, Dwinita Wikan Utami, memaparkan bahwa langkah ini sangat krusial. Pembaruan teknologi produksi benih mutlak diperlukan agar keunggulan varietas hasil pemuliaan dapat terus dipertahankan dalam jangka panjang.

"Kita memerlukan teknologi eliminasi virus yang efektif, mudah diterapkan, dan terjangkau sehingga dapat dimanfaatkan secara luas oleh produsen benih maupun petani untuk menjaga mutu bahan tanam," ucapnya melalui keterangan di Jakarta, Senin, 3 Agustus 2026.

Baca juga: Dokter Tifa Soal Ijazah Sarjana Kehutanan UGM 1985: Materainya Warna Merah, Bukan Hijau!

Fokus utama dari kolaborasi riset tersebut adalah mengeliminasi virus yang kerap terbawa pada bahan tanam bawang putih. Guna mencapai target itu, tim BRIN tidak sekadar merumuskan metode, tetapi juga tengah merancang prototipe alat khusus eliminasi virus. Alat ini nantinya akan diuji untuk melihat sejauh mana pengaruh perlakuan eliminasi terhadap pertumbuhan serta produktivitas tanaman. Kesuksesan teknologi tersebut diproyeksikan mampu mendongkrak produksi bawang putih nasional.

Urgensi riset ini kian nyata menyusul temuan mengejutkan dari tim virologi UGM. Pakar Virologi Tumbuhan Fakultas Pertanian UGM, Sedyo Hartono, mengungkapkan bahwa hasil pengujian laboratorium berhasil mendeteksi infeksi ganda Onion yellow dwarf virus (OYDV) dan Shallot latent virus (SLV) pada sekitar 80 persen sampel yang diuji.

Sampel-sampel tersebut diperoleh dari berbagai sentra produksi, meliputi Enrekang, Magelang, Temanggung, Tawangmangu, hingga Yogyakarta. Wujudnya pun beragam, mulai dari umbi benih, umbi konsumsi, sampai daun baik yang sudah menunjukkan gejala maupun yang tampak sehat.

Baca juga: BRIN Sebut Reaktivasi Jalur Kereta Berpotensi Pacu Pembangunan Daerah

Penyakit ini kerap menjadi musuh dalam selimut karena dampaknya tidak langsung kasat mata.

"Gejala infeksi virus juga tidak selalu terlihat jelas pada tanaman. Di lapangan, dampaknya dapat tertutupi oleh penyakit lain, terutama penyakit yang disebabkan jamur. Riset lanjutan akan mengukur kemampuan perlakuan dalam menurunkan titer virus sekaligus menilai pengaruhnya terhadap pertumbuhan, produktivitas, dan kerentanan tanaman terhadap penyakit lain," jelas Sedyo.

Kenyataan di lapangan membuktikan bahwa infeksi virus pada bahan tanam merupakan persoalan serius. Meski demikian, karena temuan awal ini bersumber dari sampel terbatas, tim peneliti menyadari perlunya survei yang lebih komprehensif untuk memetakan penyebaran virus di sentra-sentra produksi lainnya.

Baca juga: Infografik: Kementan Pacu Produksi Bawang Putih untuk Kurangi Ketergantungan Impor

Proyek pengentasan virus ini dijadwalkan berjalan selama dua tahun. Pada fase pertama, riset akan menitikberatkan pada validasi metode serta pembuatan prototipe alat dalam skala laboratorium. Memasuki tahap kedua, tim akan menguji respons tanaman hasil eliminasi langsung di lahan terbuka. Selain itu, BRIN dan UGM akan mendorong pengembangan alat bersama mitra industri agar kelak siap digunakan pada skala produsen benih.

Lebih jauh, PRIS bawang putih sejatinya tidak hanya terpaku pada eliminasi virus. Program strategis ini turut menargetkan penciptaan varietas bawang putih berumbi besar dari tipe softneck dan hardneck, serta varietas yang mampu beradaptasi di dataran menengah. Target lainnya mencakup inovasi teknologi pematahan dormansi, penyusunan basis data plasma nutfah berbasis fenotipe dan genotipe, hingga penetapan standar operasional produksi benih sehat.

Pada akhirnya, seluruh produk riset ini akan bermuara pada pengujian langsung di sentra-sentra pengembangan. Salah satu titik implementasi utamanya adalah Kawasan Swasembada Pangan, Air, dan Energi (KSPAE) yang berlokasi di Humbang Hasundutan, Sumatera Utara.

(Sumber: Antara)

HIGHLIGHT

x|close