Riset Jadi Kunci Hilirisasi, BRIN Dorong Inovasi Bernilai Tambah untuk Perkuat Industri Nasional

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 29 Jul 2026, 14:03
thumbnail-author
Naila Fadhilah
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria menyampaikan materi bertajuk Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria menyampaikan materi bertajuk (antara)

Ntvnews.id, Jakarta -Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria menegaskan riset harus menjadi fondasi utama dalam proses hilirisasi agar mampu menghasilkan inovasi bernilai tambah yang memperkuat industri nasional, meningkatkan daya saing, dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Menurut Arif, riset tidak boleh berhenti pada publikasi ilmiah semata. Hasil penelitian harus berkembang menjadi teknologi, diterapkan sebagai inovasi, hingga dikomersialisasikan menjadi produk industri yang memberikan manfaat nyata.

"Riset harus diarahkan untuk mempercepat hilirisasi agar bisa menghasilkan nilai tambah," kata Arif saat memberikan pembekalan kepada Tim Ekspedisi Patriot 2026 di Jakarta, Rabu.

Ia menilai penguatan riset dan inovasi merupakan prasyarat penting untuk membangun sektor ekonomi riil yang kokoh sehingga mampu menopang target pertumbuhan ekonomi nasional.

Baca juga:KAI Gandeng BRIN Kembangkan Automatic Train Protection, Target Roadmap Rampung pada Triwulan II 2027

"Kalau kita ingin menjadi negara (ekonomi terbesar) nomor empat di dunia pada tahun 2050, maka salah satu prasyaratnya adalah stabilitas pertumbuhan ekonomi di kisaran 6 sampai 7 persen. Dan itu hanya bisa terjadi kalau ada kualitas sektor ekonomi riil yang kuat," ujar dia.

Arif menjelaskan, proses inovasi dimulai dari penemuan ilmu pengetahuan yang kemudian berkembang menjadi teknologi, diterapkan sebagai inovasi, lalu dikomersialisasikan hingga melahirkan kegiatan industri yang memberikan manfaat ekonomi.

Ia juga menekankan bahwa riset harus berangkat dari kebutuhan masyarakat agar teknologi yang dihasilkan benar-benar mampu menjawab persoalan di lapangan.

"Riset tidak semata-mata berbasis pada imajinasi peneliti. Riset sebaiknya juga harus melihat aspirasi dan kebutuhan dari pengguna kita," ujar dia.

Baca juga:AHY Dorong Kawasan KUNCI Bersama Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi Baru

Karena itu, peneliti perlu memahami kebutuhan petani, nelayan, pelaku usaha, maupun masyarakat sebelum menyusun riset. Dengan pendekatan tersebut, hasil penelitian diharapkan dapat diterapkan secara luas dan direplikasi di berbagai daerah.

Arif menilai Indonesia memiliki modal besar untuk memperkuat ekosistem riset melalui kekayaan sumber daya alam yang dipadukan dengan sains, teknologi, dan inovasi.

Sebagai contoh, hasil riset telah mendorong diversifikasi produk turunan kelapa sawit yang kini tidak hanya menghasilkan minyak goreng, tetapi juga biodiesel, gula generasi ketiga, biomaterial, hingga berbagai produk industri lainnya.

Selain itu, rumput laut juga dapat diolah menjadi karagenan yang dimanfaatkan sebagai bahan baku industri dirgantara serta berbagai produk berbasis biomaterial.

Baca juga:Riset Terbaru Economist Enterprise Soroti Pentingnya Integrasikan Perawatan Kesehatan Mandiri ke Sistem Kesehatan

Untuk mempercepat pemanfaatan hasil riset, Arif menilai kolaborasi antara BRIN, perguruan tinggi, pemerintah daerah, industri, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta masyarakat menjadi faktor penting agar penelitian tidak berhenti sebagai dokumen, melainkan mampu menciptakan manfaat ekonomi.

"Teknologi-teknologi yang Anda ciptakan itu teknologi yang menjawab kebutuhan dan kemudian disebarkan. Libatkan Kementerian Transmigrasi, libatkan BRIN, libatkan perguruan tinggi untuk menunjukkan bahwa Anda membawa manfaat," kata Arif.

Dalam paparannya, Arif mengungkapkan Indonesia saat ini menempati peringkat ke-55 dalam Global Innovation Index. Ia juga menyebut jumlah permohonan paten yang didaftarkan di Indonesia sepanjang 2024 sekitar 15.000, masih jauh di bawah China yang mencapai sekitar 1,8 juta paten.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus dorongan untuk terus memperkuat ekosistem inovasi nasional.

Berdasarkan data BRIN, Indonesia memiliki lebih dari 4.400 perguruan tinggi dengan sekitar 303 ribu dosen dan hampir 10 juta mahasiswa. Potensi tersebut dinilai menjadi modal besar dalam memperkuat ekosistem riset, pengembangan teknologi, dan inovasi guna mendukung pembangunan nasional.

Baca juga:Prabowo Ajak Kampus Jadi Motor Inovasi Nasional dan Mitra Strategis Hadapi Perubahan Global

Di sisi lain, Arif berharap Tim Ekspedisi Patriot dapat menjadi penghubung antara hasil riset dengan kebutuhan masyarakat di kawasan transmigrasi melalui pembangunan kolaborasi, pendampingan inovasi, serta pengembangan ekosistem yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

(Sumber: Antara)

x|close