Indonesia Diminta Tak Hanya Jadi Produsen, Tapi Pusat Hilirisasi Sawit Global

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 23 Jul 2026, 20:21
thumbnail-author
Muslimin Trisyuliono
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Industri sawit Industri sawit

Ntvnews.id, Jakarta - Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal menilai Indonesia perlu melakukan transformasi strategis dari sekadar negara produsen kelapa sawit terbesar di dunia menjadi pusat hilirisasi sawit global.

Faisal menjelaskan, transformasi Indonesia menjadi pusat hilirisasi sawit global akan memberikan nilai tambah, memperkuat daya saing, hingga meningkatkan kontribusi industri sawit nasional.

Faisal mengakui bahwa saat ini Indonesia telah mengembangkan banyak produk turunan kelapa sawit. Akan tetapi, potensi yang dimiliki oleh komoditas kelapa sawit masih jauh lebih besar dibandingkan dengan capaian hilirisasi saat ini.

“Sejauh ini Indonesia sudah mendorong hilirisasi kelapa sawit. Cuma mungkin hilirisasi belum beragam. Oleh karena itu, perlu ada strategi agar Indonesia bisa menjadi pusat hilirisasi industri sawit global,” katanya di Jakarta, Kamis 23 Juli 2026.

Baca juga: Gapki Sebut Industri Sawit Miliki Fondasi Kuat dalam Aspek Keselamatan Kerja

Ia menjelaskan, Indonesia membutuhkan arah kebijakan untuk pengembangan hilirisasi sawit nasional. Arah kebijakan tersebut akan membentuk kelahiran industri manufaktur yang mengolah kelapa sawit menjadi berbagai produk bernilai tambah tinggi. 

Selain arah kebijakan, Indonesia membutuhkan berbagai instrumen pendukung baik berupa insentif maupun disinsentif fiskal dan nonfiskal guna mempercepat investasi di sektor hilir. 

“Kita juga harus memperkuat sektor hulu sawit. Penguatan di sektor hulu ini penting karena tidak mungkin kita membangun industri hilir kalau tidak didukung oleh sektor hulu yang kuat,” paparnya.

Selama ini upaya pengembangan hilirisasi sawit nasional aktif dilakukan oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) melalui berbagai macam inisiatif seperti mendorong riset dan inovasi, memperkuat promosi dan kemitraan, hingga melakukan pengembangan sumber daya manusia di sektor hilirisasi sawit.

BPDP secara aktif dan konsisten mendukung percepatan hilirisasi kelapa sawit nasional menuju industri yang berdaya saing dan berkelanjutan karena mampu memberi manfaat nyata dan dampak positif bagi masyarakat.

Faisal menilai percepatan hilirisasi kelapa sawit akan memberikan dampak positif terhadap ekonomi mulai dari penciptaan lapangan kerja, peningkatan pendapatan masyarakat, hingga penguatan struktur industri nasional.

“Dampak positif hilirisasi sawit tentu banyak sekali mulai dari penyerapan tenaga kerja hingga peningkatan income masyarakat,” sebutnya.

Baca juga: Dukung Ketahanan Energi Nasional, Pertamina Optimalkan Potensi Sawit dan Limbahnya untuk Substitusi Impor BBM

Sementara itu, Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI), Tungkot Sipayung, mengatakan bahwa hilirisasi merupakan strategi untuk menghasilkan produk turunan bernilai tambah tinggi sekaligus memperluas pasar industri sawit Indonesia. 

Ia menekankan, hilirisasi tak hanya berorientasi pada peningkatan ekspor tetapi juga berperan untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap berbagai produk impor. 

“Dengan hilirisasi sawit, kita bisa berubah dari raja CPO dunia menjadi raja oleokimia, raja biofuel, raja biomaterial, dan raja oleofood global,” paparnya.

Tungkot Sipayung mencontohkan, keberhasilan Program Mandatori Biodiesel yang mampu menekan impor solar berbasis fosil melalui pemanfaatan kelapa sawit. Ia menerangkan, masih banyak produk impor yang dapat disubstitusi melalui pengembangan industri hilir sawit. 

“Saat ini kita berhasil melakukan hilirisasi sawit menjadi biodiesel sehingga ke substitusi impor solar fosil. Kita perlu maju lagi. Masih banyak produk impor yang sebetulnya bisa disubstitusi oleh produk hilir sawit,” ujarnya.

Ia mencontohkan, hilirisasi sawit di sektor energi berpotensi untuk menekan impor avtur melalui pengembangan sustainable aviation fuel (SAF) atau bioavtur. Beberapa bahan baku yang potensial untuk produksi SAF seperti minyak sawit, PFAD, POME, minyak jelantah, hingga tandan kosong kelapa sawit.

“Dalam energi, kita mengimpor bensin dan avtur yang sangat besar setiap tahun. Padahal, dari produk hilir sawit bisa dihasilkan bensin sawit dan avtur sawit atau SAF untuk mengganti impor energi fosil tersebut,” terangnya.

Tungkot menambahkan, hilirisasi sawit juga memungkinkan Indonesia menjadi salah satu negara produsen oleokimia terbesar di dunia. Kapasitas produksi oleokimia Indonesia tercatat sebesar 19,93 juta ton per tahun. Hilirisasi sawit di sektor oleokimia berpotensi menekan angka impor kimia organik.

“Demikian juga impor kimia organik yakni petrokimia yang cukup besar setiap tahun. Bisa kita substitusi dari produk hilir sawit yakni oleokimia sawit,” pungkasnya.

x|close