Ntvnews.id, Jakarta -Jalur kereta api Rangkasbitung–Pandeglang–Labuan yang telah lama terbengkalai kini memiliki peluang besar untuk kembali berdenyut. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memproyeksikan bahwa pengaktifan ulang rute bersejarah tersebut tidak sekadar memperlancar arus penumpang dan barang, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi serta penopang pembangunan wilayah Banten secara berkelanjutan.
Kepastian mengenai besarnya potensi itu disampaikan oleh Purwoko, Peneliti Pusat Riset Kesejahteraan Sosial, Desa dan Konektivitas (PRKSDK) BRIN. Di Jakarta, pada Minggu (2/8), ia menekankan bahwa langkah ini membawa dimensi yang jauh lebih luas dari sekadar membenahi fasilitas transportasi umum.
"Reaktivasi jalur kereta api bukan hanya proyek transportasi, tetapi juga strategi pengembangan wilayah. Semestinya potensi tersebut dapat dioptimalkan," ungkapnya.
Baca juga:Tak Lagi Identik dengan Mitos, BRIN Olah Kemenyan Jadi Parfum Kelas Dunia
Kesimpulan tersebut tentu tidak lahir dari asumsi semata. Tim peneliti BRIN telah melakukan kajian komprehensif terhadap kondisi eksisting di lapangan. Sejak berhenti beroperasi sekitar tahun 1984 akibat bergesernya orientasi masyarakat ke angkutan jalan, jalur sepanjang kurang lebih 56 kilometer yang dibangun pertama kali pada 1906 ini mengalami kerusakan parah. Banyak stasiun tak lagi berfungsi, bahkan sebagian lintasan telah beralih rupa menjadi jalan maupun kawasan permukiman warga.
Demi memastikan kelayakan proyek, pengumpulan data primer dilakukan melalui observasi langsung pada rel, stasiun, jembatan, beserta ragam fasilitas pendukungnya. Langkah ini disempurnakan dengan serangkaian wawancara yang melibatkan PT Kereta Api Indonesia (KAI), pemerintah, operator transportasi, hingga masyarakat setempat, lalu dipadukan dengan tinjauan data sekunder dari dokumen perencanaan wilayah.
Hasil analisis tim BRIN menunjukkan prospek yang sangat menjanjikan. Lonjakan populasi dan ancaman kemacetan lalu lintas menjadi alasan kuat mengapa moda transportasi besi ini kembali mendesak untuk dihadirkan.
"Hasil kajian menunjukkan potensi pengoperasian kembali jalur cukup besar. Potensi tersebut didukung oleh pertumbuhan penduduk, meningkatnya mobilitas masyarakat, kemacetan lalu lintas yang semakin tinggi, serta kebutuhan distribusi berbagai komoditas, seperti hasil pertanian, hasil perikanan, dan batu bara menuju PLTU Labuan yang selama ini masih mengandalkan angkutan jalan," papar Purwoko.
Baca juga:Prabowo: Kereta Api Harus Jadi Instrumen Ekonomi Rakyat
Meski menawarkan sederet keunggulan mulai dari daya angkut raksasa, tarif yang terjangkau, emisi ramah lingkungan, hingga kemampuannya merajut konektivitas antarwilayah—jalan menuju reaktivasi tidak lepas dari tantangan. Kerusakan fasilitas lama, masalah alih fungsi lahan, besarnya modal investasi dan pemeliharaan, serta persaingan dengan kendaraan darat lainnya menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan.
Kendati demikian, perhitungan Internal Factor Analysis Summary (IFAS) dan External Factor Analysis Summary (EFAS) menempatkan strategi pengembangan proyek ini pada Kuadran I (strategi agresif). Hal ini menegaskan bahwa peluang kesuksesan reaktivasi jauh lebih dominan dibandingkan hambatannya, sehingga kelayakan realisasinya memiliki prospek yang sangat kokoh.
Sebagai langkah taktis, Purwoko menyarankan agar pemerintah dan pihak terkait menyiapkan strategi penguatan keunggulan kereta api. Fokusnya dapat diarahkan pada perbaikan akses menuju stasiun, peningkatan mutu pelayanan, integrasi dengan moda transportasi lain, serta edukasi masif kepada publik.
Kabar baiknya, wacana ini sejalan dengan visi Presiden RI Prabowo Subianto yang menaruh perhatian khusus pada perluasan jaringan perkeretaapian nasional. Kepala Negara menghendaki agar transportasi rel Indonesia dapat melesat pesat menjangkau wilayah yang lebih luas, selaras dengan kekayaan potensi geografis Nusantara.
Baca juga :Kaca KRL Tanah Abang–Rangkasbitung Pecah Dilempari OTK, Penumpang Terkena Serpihan Kaca
"Saya menanti peresmian revitalisasi stasiun-stasiun lain, termasuk launching Trans Sumatra Railway. Terima kasih," tutur Presiden Prabowo (30/7) lalu.
Kini, langkah nyata untuk kembali mendengar deru kereta di ujung barat Pulau Jawa itu telah dikukuhkan. Reaktivasi jalur Rangkasbitung–Pandeglang–Labuan resmi tercatat dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN) 2025–2029. Jika berjalan sesuai rencana, proses konstruksi segmen awal akan menggebrak pada tahun 2027, dan ditargetkan beroperasi secara penuh melayani masyarakat pada 2029 mendatang.
(Sumber:Antara)
Ilustrasi- Rel kereta yang ada di jalur kereta api yang melewati Kota Bandarlampung. (Antara)