Ntvnews.id, Washinton D.C - Seorang pria di Amerika Serikat (AS) ditangkap setelah diduga melempar bom molotov ke arah seorang pengguna kursi roda di dekat markas besar Kepolisian Kota Oklahoma. Aksi tersebut terekam kamera pengawas (CCTV) sehingga pelaku berhasil diamankan tak lama setelah kejadian.
Dilansir dari Fox News, Sabtu, 11 Juli 2027, Rekaman CCTV di luar markas kepolisian memperlihatkan seorang pria yang menggunakan kursi roda sedang menyeberang jalan secara diagonal pada Kamis, 2 Juli 2026 sekitar pukul 08.00 waktu setempat.
Beberapa saat kemudian, seorang pria lain yang kemudian diidentifikasi sebagai Alexander Emery (38) terlihat menyeberang jalan. Namun, ia mendadak berbalik arah dan menghampiri korban.
Dalam rekaman tersebut, Emery tampak menyalakan sebuah benda sebelum diduga melemparkannya ke arah korban. Benda yang diduga bom molotov itu langsung memicu kobaran api yang menyelimuti pria berkursi roda tersebut.
Setelah korban terbakar, Emery diduga mendorong kursi roda korban hingga kembali masuk ke dalam kobaran api.
Baca Juga: Polisi Enggan Tanggapi Pernyataan Jampidsus, Buka Peluang Lakukan Pemeriksaan
"Emery berlari ke arah korban dan mendorongnya beserta kursi rodanya kembali ke dalam kobaran api. Korban terjungkal ke belakang hingga jatuh dari kursi rodanya dan kembali diselimuti api," demikian pernyataan kepolisian setempat.
Seorang detektif Kepolisian Kota Oklahoma yang berada tidak jauh dari lokasi bersama seorang warga yang melintas segera mengevakuasi korban dari kobaran api. Sementara itu, seorang polisi lainnya langsung mengamankan Emery di tempat kejadian.
Korban dilaporkan hanya mengalami luka ringan dan telah mendapatkan perawatan di rumah sakit setempat. Kondisinya diperkirakan akan pulih.
Departemen Kepolisian Kota Oklahoma menyatakan Emery kini menghadapi sejumlah dakwaan tindak pidana berat, termasuk penyerangan dengan maksud membunuh serta penyerangan dan penganiayaan menggunakan senjata mematikan.
Hingga saat ini, motif di balik aksi brutal yang dilakukan Emery masih belum diketahui dan masih dalam penyelidikan pihak berwenang.
Ilustrasi Bom Rakitan ((Antara))