Israel-AS Intensif Bahas Opsi Serangan Baru ke Iran

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 4 Mei 2026, 06:15
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Arsip foto - Pembangkit listrik tenaga nuklir Bushehr, Iran. Satu-satunya pembangkit listrik tenaga nuklir di negara itu (28/4/2024). Pembangkit Bushehr merupakan salah satu fasilitas nuklir yang sering disebut-sebut dalam krisis internasional karena Arsip foto - Pembangkit listrik tenaga nuklir Bushehr, Iran. Satu-satunya pembangkit listrik tenaga nuklir di negara itu (28/4/2024). Pembangkit Bushehr merupakan salah satu fasilitas nuklir yang sering disebut-sebut dalam krisis internasional karena (Antara)

Ntvnews.id, Tel Aviv - Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel, Eyal Zamir, dilaporkan memperkuat komunikasi dengan Komandan Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM), Brad Cooper, terkait potensi eskalasi militer baru terhadap Iran.

Berdasarkan laporan media Israel, pembicaraan antara kedua pejabat militer itu mencakup sejumlah skenario operasi militer apabila ketegangan kembali memanas.

Sejumlah infrastruktur strategis Iran seperti jaringan energi, jalan raya, fasilitas industri, hingga cadangan minyak dan gas disebut dapat menjadi sasaran jika operasi militer kembali dilanjutkan.

Di tengah situasi tersebut, militer Israel juga dilaporkan meningkatkan kesiapan pertahanan nasional dan tetap mempertahankan status siaga tinggi.

Dilansir dari Reuters, Senin, 4 Mei 2026, Washington disebut tengah mempertimbangkan opsi serangan terbatas untuk menambah tekanan terhadap Teheran dalam perundingan terkait program nuklir Iran.

Baca Juga: Helsgallery, Wakili Persit Kartika Chandra Kirana PG Kostrad pada Ajang PERSIT BISA 2 Tahun 2026

Meski demikian, hingga saat ini belum ada keputusan akhir mengenai waktu maupun bentuk operasi militer lanjutan tersebut. Koordinasi antara AS dan Israel juga mencakup pemantauan terhadap upaya Iran memperbaiki fasilitas-fasilitas penting yang terdampak konflik sebelumnya.

Konflik besar antara kedua pihak bermula pada 28 Februari ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran.

Teheran kemudian membalas dengan menyerang sekutu AS di kawasan Teluk serta menutup Selat Hormuz.

Ilustrasi. Bendera Iran. (Foto: Reuters) Ilustrasi. Bendera Iran. (Foto: Reuters)

Gencatan senjata selama dua pekan diumumkan pada 8 April melalui mediasi Pakistan. Namun, perundingan lanjutan di Islamabad belum berhasil menghasilkan kesepakatan permanen.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump kemudian memperpanjang gencatan senjata secara sepihak tanpa menetapkan batas waktu baru. Kondisi tersebut membuat kawasan tetap berada dalam situasi yang rapuh dengan ancaman eskalasi militer yang masih tinggi.

x|close