Prabowo Panggil Menko Bahlil, Bahas Listrik Desa hingga Pabrik Baterai CATL–Antam

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 29 Okt 2026, 19:52
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia (Sekretariat Presiden)

Ntvnews.id, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto menerima Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia pada Kamis, 29 Oktober 2026. Pertemuan tersebut membahas perkembangan program listrik desa serta perkembangan pabrik baterai hasil kerja sama CATL dengan Antam.

Dalam keterangan persnya, Menko Bahlil menyampaikan bahwa hampir 11 ribu desa dan dusun di Indonesia masih belum memiliki akses listrik. Pemerintah menyiapkan peresmian 1.413 titik dalam program listrik desa tahun 2025 yang dijadwalkan berlangsung dalam waktu dekat.

“Jadi ada sekitar 1.413 titik yang akan diresmikan dalam waktu dekat ini,” ujar Menko Bahlil kepada awak media usai pertemuan.

Baca Juga: Keberanian untuk Mengakui, Kekuatan untuk Memperbaiki

Selain melaporkan perkembangan listrik desa, Menko Bahlil juga menyampaikan perkembangan pabrik baterai hasil kerja sama CATL dengan Antam. Pabrik yang peletakan batu pertamanya dilakukan Presiden Prabowo setahun lalu itu disebut sudah mulai berproduksi.

“Dalam waktu dekat akan diresmikan karena pabriknya sudah mulai produksi,” kata Menko Bahlil.

Menko Bahlil menjelaskan, kehadiran fasilitas tersebut menambah jajaran pabrik baterai kendaraan listrik di Indonesia. Ia menyebut tiga pabrik, yakni fasilitas milik Hyundai, pabrik yang telah diresmikan di Halmahera dengan investasi dari RRT, serta pabrik kerja sama CATL dan Antam.

Menurut Menko Bahlil, perkembangan tersebut menunjukkan semakin terintegrasinya ekosistem baterai kendaraan listrik di Indonesia, mulai dari pertambangan, pengolahan mineral, hingga produksi sel baterai. Ia juga menilai integrasi rantai produksi tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah mendorong hilirisasi.

“Mungkin tidak banyak negara yang memiliki ini. Nah ini bagian daripada ikhtiar untuk melakukan hilirisasi,” tutur Menko Bahlil.