Trading Emas di Tengah IHSG Tertekan, Investor Diminta Tak Panik

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 29 Okt 2026, 18:17
thumbnail-author
Muslimin Trisyuliono
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
PT Traze Andalan Futures mengajak masyarakat mencermati peluang investasi emas di tengah tekanan pasar saham Indonesia.  PT Traze Andalan Futures mengajak masyarakat mencermati peluang investasi emas di tengah tekanan pasar saham Indonesia.

Ntvnews.id, Jakarta - PT Traze Andalan Futures mengajak masyarakat mencermati peluang investasi emas di tengah tekanan pasar saham Indonesia. 

Melalui talk show edukasi bertajuk “IHSG Rontok, Emas Jadi Peluang atau Jebakan?”, Traze membahas pergerakan harga emas, dampak isu MSCI terhadap IHSG.

Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat: ketika saham turun, apakah emas menjadi peluang atau justru menyimpan risiko lain yang perlu diwaspadai?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Traze menghadirkan Ibrahim Assuaibi, pakar ekonomi, sebagai narasumber. Diskusi dipandu oleh Kuswanto, Head Research Analyst sekaligus Wakil Pialang Berjangka Traze Andalan Futures.

Baca juga: Harga Emas Antam Hari Ini Balik ke Level Rp2,55 Juta per Gram

Kuswanto menegaskan bahwa keputusan di pasar sebaiknya tidak diambil berdasarkan kepanikan atau sekadar mengikuti tindakan orang lain.

“Harga turun belum tentu berarti murah. Begitu juga emas, tidak otomatis naik setiap kali saham turun. Karena itu, kita perlu memahami apa yang menggerakkan harga, bukan hanya melihat apakah pasar sedang panik atau tidak,” ujar Kuswanto, Kamis 29 Oktober 2026.

Ia juga mengingatkan bahwa trading emas, termasuk melalui kontrak berjangka atau instrumen XAUUSD, memiliki risiko. Perdagangan dengan sistem margin dapat memperbesar potensi keuntungan, tetapi juga dapat memperbesar kerugian.

“Sebelum mengambil posisi, tentukan rencana masuk dan keluar, lalu hitung kerugian yang sanggup kita tanggung. Keuntungan tidak pernah dijamin. Yang bisa kita lakukan adalah belajar, membuat rencana, dan mengelola risiko dengan disiplin,” lanjutnya.

Dalam upaya mendorong pertumbuhan pasar keuangan yang sehat dan inklusif, Traze Andalan Futures secara rutin menggelar program edukasi sekaligus memperkenalkan platform Traze HUB yang dapat diakses melalui traze.co.id/trazehub. 

Kedua inisiatif tersebut bertujuan untuk mengenalkan dan mengedukasi masyarakat mengenai instrumen perdagangan derivatif.

Upaya ini sejalan dengan kebutuhan untuk meningkatkan literasi keuangan masyarakat Indonesia. Berdasarkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 yang diumumkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), dan Badan Pusat Statistik (BPS) pada 11 Agustus 2026, indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia mencapai 69,57 persen, naik dari 66,64 persen pada SNLIK 2025.

Sementara itu, indeks inklusi keuangan mencapai 93,61 persen, meningkat dari 92,74 persen pada tahun sebelumnya. Kedua capaian tersebut telah melampaui target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029, yakni 69,35 persen untuk literasi keuangan dan 93 persen untuk inklusi keuangan.

Data tersebut menunjukkan bahwa akses masyarakat terhadap layanan keuangan sudah semakin luas, tetapi pemahaman terhadap produk dan layanan keuangan masih perlu diperkuat. 

Indeks literasi keuangan sebesar 69,57 persen masih terpaut sekitar 24 poin persentase dari indeks inklusi keuangan yang mencapai 93,61 persen.

Melalui kegiatan edukasi seperti Traze Open House dan platform Traze HUB, Traze ingin berkontribusi dalam meningkatkan literasi keuangan masyarakat Indonesia, khususnya terkait pemahaman instrumen derivatif dan manajemen risiko.

Baca juga: Proyeksi IHSG Kamis 29 Oktober 2026, Cek Rekomendasi Saham EMAS dan TINS

Traze HUB dirancang untuk menjembatani kesenjangan informasi, membantu mengurangi risiko kerugian akibat kurangnya pemahaman, serta membekali investor ritel Indonesia dengan kemampuan manajemen risiko yang lebih baik dalam menghadapi pasar global.

Pasar derivatif menawarkan peluang transaksi dengan likuiditas yang tinggi, tetapi juga memiliki karakteristik risiko yang kompleks. Prinsip high risk, high return menggambarkan bahwa potensi keuntungan yang tinggi juga disertai risiko kerugian yang besar.

Tanpa pemahaman mengenai mekanisme pasar, leverage, dan analisis teknikal, investor pemula rentan mengalami kerugian signifikan. Karena itu, program edukasi Traze Andalan Futures diharapkan dapat membantu membentuk trader yang cerdas, disiplin, dan mampu mengelola portofolio secara mandiri.

“Kami melihat minat masyarakat terhadap trading derivatif terus melonjak, namun sering kali tidak diimbangi dengan literasi yang memadai,” ujar Adhy Elma Raharja, Direktur Utama Traze Andalan Futures.

“Melalui program edukasi Open House ini dan platform Traze HUB secara daring, fokus utama kami adalah mengedukasi masyarakat agar melakukan trading berdasarkan prinsip kehati-hatian, dengan menanamkan pentingnya manajemen risiko dan psikologi trading. Kami ingin memastikan setiap investor bertransaksi secara aman dan legal di bawah ekosistem yang teregulasi,” lanjutnya.

Dalam kesempatan tersebut, Traze juga menyampaikan rencana peluncuran aplikasi Traze dalam waktu dekat. Namun, tanggal peluncurannya belum dapat diumumkan.