Ntvnews.id, Jakarta - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menegaskan penolakannya terhadap penggunaan senjata nuklir dalam konflik dengan Iran. Pernyataan itu disampaikan langsung dalam konferensi pers di Gedung Putih pada Kamis (23/4/2026), sekaligus merespons spekulasi yang berkembang terkait eskalasi militer kedua negara.
Menjawab pertanyaan wartawan, Trump secara tegas menampik opsi penggunaan nuklir. "Mengapa saya harus menggunakan senjata nuklir ketika kita telah menghancurkan Iran sepenuhnya tanpa itu?" ujarnya sebagaimana dilansir TRT. Ia juga menekankan bahwa senjata nuklir tidak seharusnya digunakan oleh negara mana pun.
"Senjata nuklir seharusnya tidak pernah diizinkan untuk digunakan oleh siapa pun," tambahnya.
Penegasan tersebut muncul di tengah situasi konflik yang masih berlangsung. Trump menyebut bahwa kemampuan militer Iran telah mengalami kehancuran besar, meski ia mengakui adanya kemungkinan pengisian ulang persenjataan dalam masa gencatan senjata dua minggu terakhir. Namun, ia menilai hal itu tidak akan mengubah keseimbangan kekuatan secara signifikan.
Baca Juga: KPU Siapkan Dapil Khusus IKN untuk Pemilu 2029
"Angkatan laut mereka telah hancur. Angkatan udara mereka telah hancur, pertahanan anti-pesawat mereka telah hancur... mungkin mereka sedikit menambah persenjataan selama jeda dua minggu, tetapi kita akan menghancurkannya dalam waktu sekitar satu hari jika mereka melakukannya," kata Trump.
Selain menyoroti aspek militer, Trump juga mengungkapkan keinginannya untuk mencapai kesepakatan dengan Iran. Namun, ia menekankan bahwa kesepakatan yang diinginkan bukanlah solusi sementara, melainkan perjanjian yang bersifat jangka panjang. "Saya ingin membuat kesepakatan terbaik. Saya bisa membuat kesepakatan sekarang juga... tetapi saya tidak ingin melakukannya. Saya ingin kesepakatan itu abadi," ujarnya.
Sebelumnya, pada 7 April, Trump sempat mengeluarkan pernyataan keras yang memicu spekulasi luas. Ia mengatakan bahwa "seluruh peradaban akan mati malam ini, dan tidak akan pernah bisa dihidupkan kembali," yang oleh sejumlah pihak ditafsirkan sebagai ancaman penggunaan senjata nuklir terhadap Iran. Namun, setelah itu, ia justru menyetujui gencatan senjata yang hingga kini masih berlangsung.
Baca Juga: Xpeng Targetkan Produksi Massal Mobil Terbang pada 2027
Penegasan terbaru ini juga hadir setelah muncul laporan mengenai upaya Trump untuk mengakses kode nuklir dalam sebuah pertemuan darurat di Gedung Putih pekan lalu. Disebutkan bahwa langkah tersebut dihentikan oleh seorang pejabat militer senior AS dan sempat memicu ketegangan dalam rapat internal.
Di sisi lain, konflik berkepanjangan dengan Iran telah berdampak luas pada ekonomi global. Penutupan Selat Hormuz oleh Teheran membuat kapal tanker tidak dapat melintas, sehingga memicu lonjakan harga minyak dunia dan meningkatkan tekanan terhadap perekonomian internasional.
Sejauh ini, upaya Washington untuk mendorong Iran kembali ke meja perundingan belum membuahkan hasil. Pemerintah Teheran tetap menolak syarat yang diajukan AS dan justru mengajukan tuntutan mereka sendiri yang harus dipenuhi oleh Washington.
Arsip foto - Presiden Amerika Serikat Donald Trump berbicara kepada pers di Washington DC. ANTARA/Anadolu Ajensi/pri. (Antara)