Jenderal Tertinggi AS Cegat Rencana Nuklir Donald Trump ke Iran, Ada Pertengkaran Sengit di Gedung Putih

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 23 Apr 2026, 13:40
thumbnail-author
Dedi
Penulis & Editor
Bagikan
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengadakan konferensi pers di Ruang Briefing Pers James S. Brady di Gedung Putih, Washington D.C., Amerika Serikat, Selasa (6/4/2026). ANTARA/Anadolu/Celal Güne?/pri. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengadakan konferensi pers di Ruang Briefing Pers James S. Brady di Gedung Putih, Washington D.C., Amerika Serikat, Selasa (6/4/2026). ANTARA/Anadolu/Celal Güne?/pri. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Ketegangan di lingkaran tertinggi pemerintahan Amerika Serikat mencuat ketika muncul klaim bahwa Presiden Donald Trump sempat ingin menggunakan kode nuklir terhadap Iran. Namun, langkah tersebut disebut berhasil dihentikan oleh pejabat militer tertinggi AS, memicu konflik internal yang serius.

Pusat dari ketegangan ini berada pada peran Kepala Staf Gabungan, Dan Caine, yang disebut secara tegas menolak keinginan presiden. Penolakan tersebut bukan sekadar perbedaan pendapat biasa, melainkan berkembang menjadi pertengkaran sengit antara pemimpin sipil dan pucuk pimpinan militer.

Dalam struktur komando Amerika Serikat, presiden memang memegang kendali tertinggi sebagai panglima. Ia memiliki akses terhadap kode nuklir yang dikenal sebagai Gold Codes atau “biscuit”, yakni perangkat otorisasi yang digunakan untuk mengidentifikasi diri sebelum memerintahkan peluncuran senjata nuklir. Kode ini menjadi elemen krusial karena berfungsi sebagai verifikasi resmi kepada Pusat Komando Militer Nasional sebelum serangan dapat dijalankan.

Baca Juga: Geger Isu Trump Aktifkan Kode Nuklir saat Rapat Bahas Masalah dengan Iran

Isu ini mencuat setelah mantan perwira CIA, Larry Johnson, mengungkapkan tudingan tersebut dalam sebuah podcast. Dalam kemunculannya di podcast Judging Freedom yang dipandu Andrew Napolitano, Johnson menyebut pertemuan darurat di Gedung Putih berubah menjadi konfrontasi langsung. Ia menggambarkan insiden itu sebagai “quite the blow up.”

Johnson mengklaim bahwa saat Trump berupaya mengaktifkan otorisasi nuklir, Caine mengambil sikap tegas. Ia mengatakan bahwa sang jenderal “Ia berdiri dan berkata 'Tidak.' Ia menggunakan hak istimewanya sebagai kepala militer.” Penolakan itu disebut menjadi titik puncak ketegangan antara keduanya.

Laporan tambahan dari CNN menyebut bahwa Caine bersama sejumlah pejabat tinggi, termasuk Pete Hegseth, tiba di Gedung Putih pada 18 April. Dalam rekaman yang ditampilkan di podcast, terlihat Caine keluar dari gedung dengan tergesa, memperkuat kesan adanya situasi yang memanas di dalam.

Baca Juga: Investasi Masuk RI Capai Rp 498,8 T di Triwulan I 2026, Buka 706 Ribu Lapangan Kerja

Meski demikian, secara teknis tidak ada pihak yang dapat membatalkan perintah presiden dalam rantai komando militer. Namun, sejumlah laporan menunjukkan adanya perbedaan pandangan yang tajam antara Trump dan Caine terkait pendekatan terhadap Iran. The Washington Post melaporkan bahwa pandangan Caine tidak sejalan dengan pernyataan Trump sebelumnya yang menyebut aksi militer terhadap Iran bisa “easily won.”

Lebih jauh, The Wall Street Journal mengungkap bahwa Trump bahkan sempat “sengaja dikeluarkan dari Ruang Situasi” dalam operasi penyelamatan terbaru terhadap penerbang AS di Iran. Sumber menyebut kondisi Trump saat itu sangat tidak stabil, hingga ia berteriak kepada para ajudannya selama berjam-jam. Para pejabat militer disebut membatasi aksesnya karena menilai ketidaksabarannya tidak akan membantu situasi.

Meskipun belum ada bukti pasti terkait niat penggunaan senjata nuklir, jarak antara retorika perang Trump dan sikap pimpinan militernya menjadi pemicu meluasnya klaim ini. Di tengah kekhawatiran atas perilaku presiden yang dinilai tidak dapat diprediksi, sejumlah anggota parlemen juga terus menyuarakan keraguan terhadap kondisi mentalnya, menambah kompleksitas dinamika di tingkat tertinggi pemerintahan AS.

x|close