Ntvnews.id, London - Inggris dan Prancis mengadakan konferensi guna membahas langkah militer bersama terkait Selat Hormuz, jalur penting perdagangan global.
Pertemuan tersebut berlangsung pada 22–23 April di Markas Besar Gabungan Permanen Inggris di Northwood, London Utara. Sekitar 30 negara dijadwalkan hadir melalui perwakilan perencana militer, tanpa melibatkan Iran, Israel, maupun Amerika Serikat.
"Inggris dan Prancis mengadakan pertemuan para perencana militer untuk memajukan misi multinasional guna membuka kembali Selat Hormuz," demikian pernyataan resmi pemerintah Inggris, dilansir dari Reuters, Kamis, 23 April 2026.
Agenda utama konferensi ini adalah merumuskan strategi terpadu untuk membuka kembali Selat Hormuz yang ditutup akibat serangan besar-besaran Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, sebagaimana dilaporkan Anadolu Agency.
Selain itu, forum ini juga bertujuan mengonversi kesepakatan diplomatik menjadi rencana militer yang nyata dan dapat segera dijalankan.
Para peserta diharapkan memusatkan perhatian pada kesiapan militer, sistem komando dan kendali, serta mekanisme pengerahan pasukan ke wilayah Selat Hormuz.
Baca Juga: Polisi Bongkar Penjualan Perangkat Phising, Bikin Korban Rugi Rp350 M
Menteri Pertahanan Inggris John Healey menyatakan bahwa pertemuan perencanaan multinasional ini memiliki peran yang sangat krusial.
"Tugas kita, hari ini dan besok, adalah menerjemahkan konsensus diplomatik ke dalam rencana bersama untuk melindungi kebebasan navigasi di Selat dan mendukung gencatan senjata yang langgeng," kata Healey.
"Saya yakin bahwa, dalam dua hari ke depan, kemajuan nyata bisa tercapai," imbuh dia.
Selat Hormuz menjadi sorotan dunia setelah konflik antara AS dan Israel melawan Iran meningkat tajam. Iran kemudian membalas dengan memperketat akses jalur perdagangan tersebut sejak 2 Maret.
Ilustrasi. Kapal tanker melintas di Selat Hormuz, Iran. (Foto: ANTARA/Anadolu/py)
Pada awal April, Amerika Serikat turut melakukan blokade dengan menargetkan kapal berbendera Iran serta kapal yang berlayar menuju atau berasal dari pelabuhan Iran. Kondisi ini memperparah kekhawatiran global, terutama di tengah krisis dan lonjakan harga bahan bakar di sejumlah negara.
Iran sempat membuka kembali Selat Hormuz pekan lalu setelah tercapai gencatan senjata sementara selama 10 hari antara Israel dan Lebanon. Namun, kurang dari 24 jam kemudian, Iran kembali menutup jalur itu setelah menilai AS melanggar kesepakatan tersebut.
Sebelumnya, AS dan Iran sempat menyepakati gencatan senjata selama dua pekan, dimulai 8 April hingga 21 April. Presiden AS Donald Trump kemudian mengumumkan perpanjangan gencatan senjata tanpa memberikan rincian lebih lanjut.
Meski demikian, dalam pengumuman tersebut, Trump juga menegaskan kesiapan pasukan sekaligus melanjutkan blokade di Selat Hormuz.
Ilustrasi - Selat Hormuz, Iran. (ANTARA/Anadolu/py.) (Antara)