Ntvnews.id
Kementerian Luar Negeri Iran mengungkapkan bahwa dalam percakapan telepon terpisah dengan Menteri Luar Negeri Pakistan dan Rusia, Araghchi mengecam langkah AS terhadap pelayaran komersial Iran, termasuk laporan penyitaan kapal kontainer Touska beserta awaknya.
Ia juga menyoroti "sikap yang kontradiktif dan retorika ancaman" dari Washington.
Gencatan senjata yang mulai berlaku sejak 8 April 2026, setelah konflik selama 40 hari, dinilai masih berada dalam kondisi rapuh.
Pakistan diketahui telah memfasilitasi dialog tidak langsung antara Teheran dan Washington, dengan putaran awal perundingan yang digelar di Islamabad pada 11–12 April 2026.
Baca Juga: Drone Israel Serang Lebanon di Tengah Gencatan Senjata
Namun hingga kini, Iran belum memastikan keikutsertaannya pada putaran lanjutan.
Kantor berita semiresmi Iran, Tasnim News Agency, melaporkan bahwa partisipasi Iran bergantung pada terpenuhinya sejumlah prasyarat oleh pihak AS.
Dalam laporan tersebut, disebutkan bahwa blokade angkatan laut serta "permintaan yang berlebihan" dari Washington menjadi hambatan utama dalam proses diplomasi.
Araghchi menegaskan bahwa Iran akan mempertimbangkan berbagai aspek sebelum memutuskan kelanjutan jalur diplomasi, termasuk menilai perilaku Amerika Serikat.
Ia juga menambahkan bahwa Teheran siap mengambil langkah-langkah guna melindungi kepentingan dan keamanan nasionalnya.
Baca Juga: Trump Ancam Banyak Bom Meledak Jika Gencatan Senjata dengan Iran Berakhir
Ketegangan antara kedua pihak meningkat setelah serangan gabungan AS dan Israel ke sejumlah wilayah Iran, termasuk ibu kota Teheran, sejak 28 Februari 2026.
Serangan tersebut dilaporkan menewaskan pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei, bersama sejumlah komandan militer senior dan warga sipil.
Sebagai respons, Iran melancarkan serangan balasan menggunakan rudal dan drone yang menyasar Israel serta aset-aset milik Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
(Sumber: Antara)
Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi. (ANTARA/Xinhua) (Antara)