Ntvnews.id, Washington D.C - Amerika Serikat dilaporkan telah menguras persediaan sejumlah rudal strategis dalam konflik melawan Iran yang berlangsung sejak akhir Februari. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran bahwa AS dapat mengalami kekurangan amunisi jika harus terlibat dalam perang lain di masa depan.
Dilansir dari Anadolu, Kamis, 23 April 2026, Informasi tersebut merujuk pada laporan analisis terbaru dari Pusat Studi Strategis dan Internasional (CSIS).
Dalam laporan itu, CSIS menyebut bahwa militer AS telah "secara signifikan menghabiskan" stok berbagai rudal penting selama operasi militernya terhadap Iran.
Selama tujuh minggu konflik, CSIS memperkirakan militer AS telah menggunakan sekitar 45 persen stok Rudal Serangan Presisi, sedikitnya setengah dari persediaan rudal pencegat THAAD, serta hampir 50 persen rudal pertahanan udara Patriot. Angka ini disebut sejalan dengan estimasi rahasia dari Departemen Pertahanan Amerika Serikat atau Pentagon.
Baca Juga: Polisi Bongkar Penjualan Perangkat Phising, Bikin Korban Rugi Rp350 M
Selain itu, analisis CSIS juga mencatat penggunaan sekitar 30 persen rudal Tomahawk, lebih dari 20 persen rudal jarak jauh Joint Air-to-Surface Standoff Missiles, serta sekitar 20 persen rudal SM-3 dan SM-6.
Meski Pentagon telah menandatangani kontrak untuk meningkatkan produksi rudal pada awal tahun ini, proses pemulihan stok diperkirakan tetap membutuhkan waktu antara tiga hingga lima tahun, bahkan dengan peningkatan kapasitas produksi.
Dalam jangka pendek, CSIS menilai AS masih memiliki cukup amunisi untuk melanjutkan operasi militer jika gencatan senjata yang rapuh dengan Iran kembali runtuh. Namun, untuk skenario konflik besar melawan kekuatan setara seperti Tiongkok, persediaan saat ini dinilai tidak mencukupi.
Bendera Amerika Serikat/ist
CSIS juga menekankan bahwa pemulihan stok ke tingkat sebelum perang akan memerlukan waktu bertahun-tahun.
"Pengeluaran amunisi yang tinggi telah menciptakan celah kerentanan yang meningkat di Pasifik barat," kata salah satu peneliti CSIS, Mark Cancian, mantan Kolonel Korps Marinir AS, kepada CNN.
"Akan dibutuhkan satu tahun hingga empat tahun untuk mengisi kembali persediaan ini, dan beberapa tahun setelah itu untuk memperluasnya ke tingkat yang dibutuhkan," sebutnya.
Menanggapi laporan tersebut, juru bicara Pentagon, Sean Parnell, menyatakan bahwa militer AS tetap memiliki seluruh kemampuan yang diperlukan untuk menjalankan operasi sesuai keputusan presiden.
"Sejak Presiden Trump menjabat, kami telah melaksanakan berbagai operasi yang sukses di seluruh komando tempur, sambil memastikan militer AS memiliki persenjataan yang lengkap untuk melindungi rakyat dan kepentingan kami," kata Parnell.
Arsip foto - Rudal Iran. (ANTARA FOTO/Xinhua/Chen Junqing/tom/am.) (Antara)