Ntvnews.id, Jakarta - Jumlah personel militer Amerika Serikat (AS) yang mengalami luka-luka dalam operasi militer terhadap Iran dilaporkan meningkat menjadi 624 orang. Informasi tersebut disampaikan The New York Times berdasarkan data yang dipublikasikan oleh Pentagon.
Laporan itu menyebutkan bahwa pada Minggu, 26 Juli 2026, Pentagon mulai menyajikan data korban secara terpisah. Data tersebut dibedakan antara korban yang terjadi sejak 7 Juli, saat eskalasi terbaru konflik dimulai, dan korban sejak operasi militer pertama berlangsung pada Februari.
Seorang sumber militer menjelaskan kepada The New York Times bahwa perubahan penyajian data dilakukan karena Iran dan Amerika Serikat telah mencapai kesepakatan gencatan senjata pada April. Sementara itu, korban terbaru tercatat terjadi setelah eskalasi yang kembali berlangsung pada Juli.
Berdasarkan data resmi Pentagon, jumlah personel militer AS yang terluka sejak 7 Juli mencapai 207 orang. Dengan demikian, total korban luka sejak konflik dimulai pada Februari kini mencapai 624 orang.
Baca Juga: Trump Peringatkan Iran Bakal Bayar Mahal Kalau Ada Tentara AS yang Tewas Lagi
Sebelumnya, pada Kamis, The New York Times melaporkan adanya penurunan jumlah korban jiwa personel militer AS dalam konflik dengan Iran yang tercantum di situs resmi Pentagon.
Media tersebut juga mengungkapkan bahwa tiga pejabat militer dan seorang juru bicara Pentagon memberikan keterangan yang berbeda terkait perubahan data tersebut.
Menanggapi laporan itu, Juru Bicara Pentagon Sean Parnell membantah pemberitaan The New York Times dan menyebut informasi yang dimuat media tersebut sebagai kebohongan.
Baca Juga: Biaya Perang AS Melawan Iran Tembus Rp671 Triliun, Pentagon Minta Tambahan Dana
(Sumber: Antara)
Ilustrasi tentara Amerika Serikat. (Antara)