Kelakar Keras Menhan AS ke Iran

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 13 Jul 2026, 10:00
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Arsip - Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth. Arsip - Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth. (Antara)

Ntvnews.id, Washington D.C - Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth menyatakan Iran kini tengah menghadapi konsekuensi atas tindakannya setelah Washington melancarkan gelombang terbaru serangan militer ke negara tersebut.

Pernyataan itu disampaikan Hegseth melalui akun media sosial X pada Sabtu, 11 Juli 2026, menyusul konfirmasi Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) mengenai operasi militer terbaru terhadap Iran.

"Iran membuat pilihan yang buruk. Sekarang mereka membayarnya," tulis Hegseth, seperti dikutip dari India Today, Senin, 13 Juli 2026.

CENTCOM menjelaskan bahwa operasi tersebut merupakan gelombang ketiga serangan Amerika Serikat terhadap Iran dalam sepekan terakhir.

Militer AS menyebut operasi dimulai pada pukul 19.15 waktu Timur Amerika Serikat setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) diduga menyerang kapal kontainer berbendera Siprus, M/V GFS Galaxy, yang tengah melintasi Selat Hormuz.

Menurut CENTCOM, pasukan IRGC melakukan serangan secara langsung terhadap kapal komersial tersebut.

Di sisi lain, Angkatan Laut IRGC menyatakan pihaknya mencegat dan menyerang kapal kontainer yang berupaya keluar dari Selat Hormuz melalui jalur yang disebut tidak memperoleh izin dari otoritas Iran.

Baca JugaHelsgallery, Wakili Persit Kartika Chandra Kirana PG Kostrad pada Ajang PERSIT BISA 2 Tahun 2026

Teheran menuduh kapal tersebut mengabaikan sejumlah peringatan yang telah diberikan sebelumnya.

Insiden ini semakin memperburuk hubungan antara Amerika Serikat dan Iran. Kedua negara saling menyalahkan atas meningkatnya eskalasi di Selat Hormuz yang merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia.

Militer Amerika Serikat juga menyatakan Iran sebelumnya telah diberikan "kesempatan tambahan" untuk mematuhi Memorandum of Understanding (MoU) yang disepakati setelah insiden serangan terhadap kapal komersial sebelumnya.

Namun, CENTCOM menilai Iran kembali gagal memenuhi kewajibannya dalam kesepakatan tersebut.

"Sebagai respons, Amerika Serikat mengenakan biaya yang besar dengan terus mengurangi kemampuan Iran untuk menyerang pelaut sipil dan kapal komersial yang melintasi selat secara bebas," demikian pernyataan CENTCOM.

Ketegangan di Selat Hormuz

Ilustrasi - Serangan Iran ke sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk. <b>(Antara)</b> Ilustrasi - Serangan Iran ke sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk. (Antara)

Tak lama setelah serangan Amerika Serikat berlangsung, Iran kembali mengumumkan penutupan Selat Hormuz.

Pemerintah Iran menyatakan salah satu tembakan peringatan militernya mengenai sebuah kapal yang melintas melalui jalur yang dianggap tidak sah di perairan strategis tersebut.

Teheran menegaskan Selat Hormuz akan tetap ditutup "hingga pemberitahuan lebih lanjut" dan sampai intervensi Amerika Serikat di kawasan berakhir.

Korps Garda Revolusi Iran juga memperingatkan kemungkinan melancarkan serangan terhadap "pangkalan-pangkalan musuh lainnya di kawasan" apabila Iran kembali menjadi sasaran serangan.

Sementara itu, media pemerintah Iran melaporkan terdengar ledakan di sejumlah kota pesisir di sekitar Selat Hormuz, termasuk Bandar Abbas dan Sirik, setelah operasi militer Amerika Serikat dimulai.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran terpenting bagi perdagangan energi dunia karena menjadi lintasan utama ekspor minyak mentah dan gas alam cair dari negara-negara Teluk menuju pasar internasional.

TERKINI

Load More
x|close