Radiasi Sangat Tinggi Terdeteksi di Reaktor Fukushima Daiichi, TEPCO Ungkap Temuan Baru

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 24 Apr 2026, 14:05
thumbnail-author
Winny
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Foto udara yang diambil pada 22 Agustus 2023 menunjukkan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Fukushima Daiichi di Prefektur Fukushima, Jepang. (Kyodo) Foto udara yang diambil pada 22 Agustus 2023 menunjukkan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Fukushima Daiichi di Prefektur Fukushima, Jepang. (Kyodo) (Antara)

Ntvnews.id, Tokyo - Tingkat radiasi yang dikategorikan “sangat tinggi” terdeteksi di dalam reaktor No. 2 di Fukushima Daiichi Nuclear Power Plant, berdasarkan hasil investigasi yang dirilis oleh Tokyo Electric Power Company Holdings (TEPCO) pada Kamis.

Temuan ini menjadi yang pertama sejak Fukushima nuclear disaster tahun 2011, di mana TEPCO berhasil mengukur langsung tingkat radiasi di dalam reaktor yang mengalami pelelehan inti (core meltdown). Hal ini menandai perkembangan penting dalam upaya pemantauan kondisi internal reaktor yang selama ini sulit diakses.

Baca Juga: Dunia Hampir Berakhir, Trump Coba-coba Gunakan Kode Nuklir untuk Serang Iran

Menurut laporan NHK, investigasi dilakukan pada 16 April dengan menggunakan alat fiberscope yang dilengkapi instrumen pengukur radiasi. Perangkat tersebut dimasukkan melalui pipa ke dalam reaktor, dan pada ketinggian sekitar lima meter dari dasar, tingkat radiasi tercatat mencapai 4,7 sievert per jam angka yang masuk kategori sangat berbahaya bagi manusia.

TEPCO menyatakan bahwa tingginya radiasi tersebut mengindikasikan masih adanya puing-puing nuklir yang tersisa di dalam reaktor No. 2. Perusahaan berencana melakukan analisis lanjutan terhadap data yang diperoleh serta mengkaji metode yang paling efektif untuk proses pembersihan material berbahaya tersebut.

Baca Juga: BRIN Kembangkan Teknologi Karbon Aktif Beradiasi Gamma untuk Atasi Limbah Logam Berat

Diketahui, reaktor No. 1 hingga No. 3 di fasilitas tersebut mengalami pelelehan inti setelah gempa bumi bermagnitudo 9,0 yang diikuti tsunami besar pada 2011. Peristiwa itu meninggalkan sekitar 880 ton puing nuklir dengan tingkat radioaktivitas tinggi, yang hingga kini menjadi tantangan besar dalam proses penonaktifan pembangkit.

Material radioaktif tersebut masih menimbulkan risiko signifikan bagi lingkungan dan keselamatan, sehingga proses pembersihannya dianggap sebagai salah satu pekerjaan paling kompleks dalam sejarah pengelolaan fasilitas nuklir.

(Sumber: Antara)

x|close