Ntvnews.id, Brussel - Uni Eropa (UE) secara resmi mengumumkan penerapan paket sanksi ke-20 terhadap Rusia Paket terbaru ini memperkenalkan berbagai langkah tambahan yang menyasar sektor energi, keuangan, perdagangan, pertahanan, serta upaya pencegahan penghindaran bea masuk.
Dilansir dari Reuters, Jumat, 24 April 2026, dalam pernyataan resminya, paket tersebut mencakup 36 entitas baru di sektor energi Rusia, mulai dari aktivitas hulu hingga hilir seperti eksplorasi, produksi, penyulingan, hingga distribusi minyak.
Selain itu, dua pelabuhan Rusia, yakni Murmansk dan Tuapse, serta Terminal Minyak Karimun di Indonesia turut dimasukkan dalam daftar karena diduga terlibat dalam praktik penghindaran sanksi.
Penghindaran sanksi adalah penghindaran yang disengaja terhadap pembatasan hukum (pembekuan aset, larangan perdagangan) yang dikenakan pada negara, entitas, atau individu, yang sering kali melibatkan perusahaan fiktif, dokumen palsu, pengalihan barang melalui negara ketiga, dan transaksi keuangan yang menipu.
Baca Juga: Puluhan Warga Israel Ditahan di Bandara Rusia, Ada Apa?
UE juga memperluas tindakan terhadap apa yang disebut sebagai “armada bayangan” Rusia, dengan menambahkan 46 kapal dan entitas baru. Dengan demikian, total kapal yang dikenai sanksi kini mencapai 632 unit, yang dikenai larangan akses ke pelabuhan serta pembatasan layanan.
Langkah pengamanan tambahan juga diperkenalkan guna mencegah kapal tanker milik UE digunakan dalam mendukung ekspor minyak Rusia. Selain itu, UE tengah menyiapkan larangan transportasi laut untuk minyak dan produk turunannya dari Rusia, yang akan diselaraskan dengan kebijakan negara-negara G7.
Di sektor keuangan, pembatasan diperketat terhadap 20 bank Rusia, sehingga total 70 bank kini dilarang mengakses pasar UE. Larangan penuh juga diberlakukan terhadap transaksi dengan penyedia layanan aset kripto asal Rusia, termasuk pembatasan terhadap mata uang digital yang berkaitan dengan Rusia, seperti rencana rubel digital.
Bendera Uni Eropa terlihat di markas besar Komisi Eropa di Brussel, Belgia. (ANTARA/Xinhua/Zhao Dingzhe/aa.) (Antara)
Untuk perdagangan, UE menetapkan larangan ekspor baru dengan nilai lebih dari 365 juta euro (sekitar Rp7,3 triliun), serta pembatasan impor terhadap logam, bahan kimia, dan mineral senilai lebih dari 530 juta euro (sekitar Rp10,7 triliun).
Selain itu, sebanyak 58 perusahaan yang terhubung dengan industri militer Rusia turut dimasukkan dalam daftar, termasuk sejumlah pemasok dari negara seperti China, Uni Emirat Arab, dan Kazakhstan.
Untuk pertama kalinya, UE mengaktifkan mekanisme anti-penghindaran dengan menyoroti kekhawatiran terkait ekspor ulang barang sensitif melalui Kyrgyzstan. Kebijakan ini menargetkan produk yang digunakan dalam produksi drone dan rudal.
Baca Juga: Uni Eropa Minta TikTok Ubah Desain Layanan yang Dinilai Adiktif
Secara keseluruhan, paket sanksi ini mencakup 120 entitas baru, terdiri dari 33 individu dan 83 organisasi, yang dikenai pembekuan aset serta larangan perjalanan.
"Perang ekonomi Rusia semakin tertekan, sementara Ukraina mendapatkan dorongan besar. Kami harus terus memberikan tekanan ini sampai (Presiden Rusia Vladimir) Putin memahami bahwa perangnya tidak akan ke mana-mana," kata Kepala Kebijakan Luar Negeri UE Kaja Kallas.
Sebelumnya, penerapan paket sanksi ini sempat tertunda akibat perbedaan pandangan di internal UE, termasuk penolakan dari Perdana Menteri Hungaria Viktor Orban yang akan segera mengakhiri masa jabatannya. Namun, setelah terjadi pergantian kepemimpinan di Budapest, hambatan tersebut berhasil diselesaikan sehingga sanksi dapat diberlakukan.
Arsip foto - Bendera Uni Eropa terlihat di depan kantor pusat Komisi Eropa di Brussel, Belgia (23/5/2025). ANTARA/Xinhua/Zhao Dingzhe/aa. (Antara)