Ntvnews.id
Wakil Menteri ESDM, Yuliot, menjelaskan bahwa proses impor tersebut tidak memungkinkan dilakukan sekaligus karena keterbatasan fasilitas penyimpanan minyak di dalam negeri.
“Impornya akan dilakukan secara bertahap,” ujar Wakil Menteri ESDM Yuliot ketika ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat.
Ia menambahkan bahwa minyak impor dari Rusia nantinya tidak hanya digunakan untuk kebutuhan transportasi masyarakat, tetapi juga akan mendukung sektor industri, pertambangan, hingga menjadi bahan baku petrokimia jika diperlukan.
“Untuk pemenuhan kebutuhan sampai akhir tahun. 150 juta barel,” ucap Yuliot.
Di sisi lain, Indonesia tetap melanjutkan komitmen impor minyak mentah dari Amerika Serikat. Yuliot memaparkan bahwa kebutuhan minyak nasional mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari, sementara produksi domestik hanya berada di kisaran 600 ribu barel per hari. Kondisi ini membuat Indonesia masih harus mengandalkan impor dalam jumlah besar.
“Berarti kita impor sekitar 1 juta barel, kurang lebih. Kalau dikalkulasikan (sepanjang tahun) 150 juta itu juga kurang. Kita mencari tambahan dari negara-negara lain, termasuk yang dari Amerika,” ucap Yuliot.
Baca Juga: JP Morgan: Indonesia Negara Paling Tahan Krisis Energi ke-2 di Dunia
Sebelumnya, Utusan Khusus Presiden Bidang Energi dan Lingkungan, Hashim Djojohadikusumo, mengungkapkan bahwa Indonesia memperoleh komitmen pasokan minyak dari Rusia sebesar 150 juta barel dengan harga khusus. Kesepakatan tersebut merupakan hasil kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Rusia.
Hashim menjelaskan bahwa dalam pertemuan tersebut, Rusia awalnya menyetujui pengiriman 100 juta barel minyak dengan harga khusus. Jika Indonesia masih membutuhkan tambahan, Rusia siap menambah pasokan sebesar 50 juta barel untuk mengantisipasi gejolak ekonomi global.
Baca Juga: IHSG Dibuka Turun ke 7.378, Tekanan Harga Minyak Global Berlanjut
“Jadi dia (Prabowo) ke Moskow bukan untuk foya-foya. Dia ke Moskow ketemu Presiden Putin selama 3 jam dan dapat komitmen dari Presiden Putin,” ujar Hashim.
Dengan adanya kesepakatan ini, Rusia menjadi salah satu alternatif pemasok energi bagi Indonesia, terutama di tengah situasi krisis energi global yang dipicu oleh konflik antara Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran.
(Sumber: Antara)
Wakil Menteri ESDM Yuliot ketika ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (24/4/2026). ANTARA/Putu Indah Savitri/pri. (Antara)