Ntvnews.id, New York - Duta Besar Israel untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Dany Danon, menyatakan bahwa pemerintah Israel tidak menutup kemungkinan mengirimkan angkatan lautnya guna mendukung upaya Amerika Serikat dalam membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Dilansir dari AFP, Selasa, 17 Maret 2926, Danon juga berharap negara-negara lain ikut terlibat dalam upaya tersebut, mengingat pentingnya jalur tersebut bagi perdagangan energi global di tengah meningkatnya operasi militer AS dan Israel terhadap Iran.
"Saya tidak mengesampingkan apa pun. Saya mengatakan kami (Israel) memahami perlunya mendukung upaya Amerika dan itu harus menjadi upaya global," kata Danon kepada wartawan, Senin, saat menjawab pertanyaan terkait kemungkinan pengiriman armada laut Israel untuk membantu Amerika Serikat.
Ia menekankan bahwa terhentinya aktivitas pelayaran di Selat Hormuz bukan hanya menjadi persoalan bagi Israel dan Amerika Serikat, tetapi juga bagi banyak negara lainnya.
Baca Juga: China Mau Bantu Redakan Ketegangan di Selat Hormuz
"Saya berharap negara-negara lain menyadari bahwa mereka tidak dapat bersembunyi," katanya.
Ketegangan di kawasan meningkat sejak 28 Februari lalu ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di ibu kota Teheran. Serangan tersebut menyebabkan kerusakan dan menimbulkan korban sipil.
Sebagai respons, Iran kemudian melancarkan serangan balasan yang menargetkan wilayah Israel serta fasilitas militer milik Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Kapal patroli Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) di Selat Hormuz. (ANTARA/Xinhua) (Antara)
Eskalasi konflik tersebut berdampak langsung pada penghentian lalu lintas kapal di Selat Hormuz, yang merupakan jalur strategis pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara di kawasan Teluk Persia menuju pasar global. Kondisi ini turut memengaruhi ekspor dan produksi minyak di kawasan tersebut.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya juga menyerukan kepada sejumlah negara seperti China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, dan Inggris agar ikut mengirimkan kapal perang ke Selat Hormuz.
Sementara itu, Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei dalam pidato pertamanya pada Kamis, 12 Maret 2026, menegaskan bahwa Selat Hormuz harus tetap ditutup sebagai alat tekanan dalam konflik yang berlangsung antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.
Peta Selat Hormuz (Wikipedia Commons) (Antara)