Ntvnews.id, Teheran - Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa negaranya akan terus memberikan perlawanan terhadap serangan Amerika Serikat sampai Presiden AS Donald Trump menyadari bahwa keputusan memulai perang terhadap Iran merupakan kesalahan besar yang tidak boleh terulang.
Pernyataan tersebut disampaikan Araghchi melalui media sosial X pada Senin, 16 Maret 2026, sekaligus menanggapi berbagai spekulasi terkait kemungkinan gencatan senjata atau perundingan antara kedua pihak.
"Iran tidak pernah meminta gencatan senjata atau perundingan. Klaim seperti itu adalah khayalan," tulis Araghchi di akun X.
Baca Juga: AS Prediksi Perang dengan Iran Selesai dalam Hitungan Minggu
Ia menegaskan bahwa militer Iran akan terus memberikan respons terhadap serangan yang dilancarkan Amerika Serikat hingga Washington mengakui bahwa perang tersebut merupakan tindakan yang keliru serta memastikan adanya tanggung jawab atas korban yang jatuh.
Dia menegaskan bahwa militer Iran yang perkasa akan terus menembak sampai Presiden AS menyadari bahwa perang ilegal yang ia timpakan kepada rakyat Amerika dan Iran adalah salah dan tidak boleh diulangi lagi, serta memastikan para korban mendapatkan kompensasi.
Ketegangan antara kedua negara meningkat setelah pada 28 Februari lalu Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di ibu kota Teheran. Serangan tersebut menyebabkan kerusakan serta menimbulkan korban di kalangan warga sipil.
Dalam peristiwa itu, Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dilaporkan meninggal dunia. Pemerintah Republik Islam Iran kemudian menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari.
Baca Juga: Trump Ditantang Iran: Kalau Berani, Kirim Kapal Perang ke Teluk Persia!
Sebagai respons atas serangan tersebut, Iran melancarkan serangan balasan dengan menargetkan wilayah Israel serta fasilitas militer Amerika Serikat di sejumlah kawasan di Timur Tengah.
Pada awalnya, Amerika Serikat dan Israel menyatakan bahwa serangan tersebut merupakan langkah pencegahan terhadap ancaman yang mereka nilai berasal dari program nuklir Iran.
Namun kemudian kedua negara tersebut secara terbuka menyampaikan keinginan untuk melihat perubahan kekuasaan di Iran.
(Sumber: Antara)
Ilustrasi - Bendera negara Iran dan Amerika Serikat. ANTARA/Anadolu Ajansi/pri. (Antara)