Ntvnews.id, London - Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperingatkan bahwa masa depan NATO bisa menjadi “sangat buruk” apabila negara-negara sekutu tidak membantu Washington menjaga keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Dalam wawancara via telepon dengan harian Inggris yang dikutip oleh Financial Times pada Minggu, 15 Maret 2026, Trump kembali menekan sekutu-sekutu Eropa agar bergabung dalam operasi yang dipimpin AS untuk memastikan jalur strategis tersebut tetap terbuka bagi pelayaran internasional.
Trump menilai negara-negara Eropa merupakan pihak yang paling diuntungkan dari jalur perdagangan energi melalui Selat Hormuz, sehingga mereka seharusnya turut mengambil peran dalam menjamin keamanan kawasan tersebut.
Ia juga memperingatkan bahwa jika sekutu-sekutu NATO tidak memberikan tanggapan atau bahkan menolak permintaan Washington, maka masa depan aliansi militer tersebut bisa menghadapi konsekuensi serius.
Baca Juga: NATO Tembak Jatuh Rudal Balistik dari Iran yang Mengarah ke Wilayah Udara Turki
Trump menambahkan bahwa selama ini AS telah banyak membantu Eropa, termasuk dalam isu konflik di Ukraina. Oleh karena itu, menurut dia, saat ini merupakan momentum bagi negara-negara Eropa untuk menunjukkan dukungan mereka kepada Washington.
Dalam wawancara tersebut, Trump juga menyinggung peran Inggris yang sering disebut sebagai sekutu utama AS. Ia mengatakan London baru menawarkan bantuan setelah AS dinilai berhasil mengurangi ancaman di kawasan tersebut.
“Kami membutuhkan kapal-kapal itu sebelum kami menang, bukan setelah kami menang,” ujar Trump seperti dikutip laporan tersebut.
Laporan itu juga menyebutkan bahwa AS siap melancarkan serangan baru terhadap Pulau Kharg, yang merupakan pusat ekspor minyak Iran, serta berpotensi menargetkan infrastruktur minyak negara tersebut.
Baca Juga: Iran Targetkan Aset Ekonomi Amerika Serikat
Sebelumnya pada 28 Februari, Israel dan AS melancarkan serangan gabungan terhadap Teheran serta sejumlah kota lain di Iran. Iran kemudian membalas dengan serangan rudal dan drone yang menargetkan pangkalan serta aset militer AS dan Israel di berbagai wilayah Timur Tengah.
Sementara itu, Komandan Angkatan Laut Islamic Revolutionary Guard Corps Alireza Tangsiri menyatakan bahwa Selat Hormuz tidak ditutup secara militer, melainkan saat ini berada di bawah kendali Iran.
(Sumber: Antara)
Presiden AS Donald Trump terekam kamera setelah pertemuannya dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky di Davos, Swiss, 22 Januari 2026. (ANTARA/Xinhua/Peng Ziyang.) (Antara)