Ntvnews.id, Taheran - Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengungkapkan bahwa Amerika Serikat disebut meminta dukungan dari sejumlah negara di kawasan untuk membantu menjaga keamanan Selat Hormuz.
Permintaan itu, menurutnya, muncul karena sistem keamanan regional yang dibangun Washington dinilai gagal meredam konflik.
Melalui unggahan di platform media sosial X, Araghchi menilai kerangka keamanan yang dipromosikan AS di kawasan tersebut tidak efektif. Ia menyatakan bahwa sistem tersebut justru menimbulkan persoalan baru. Dalam pernyataannya, ia menulis bahwa kerangka keamanan AS di kawasan itu "terbukti penuh celah dan malah mengundang masalah daripada mencegahnya."
Araghchi juga menuding Washington kini mencari bantuan pihak lain untuk menjaga jalur pelayaran strategis tersebut. Ia mengatakan bahwa Washington "memohon kepada negara lain, bahkan China, untuk membantunya mengamankan Hormuz", merujuk pada salah satu jalur laut paling penting bagi perdagangan energi dunia.
Baca Juga: Donald Trump Klaim Banyak Negara Kirim Kapal Perang untuk Amankan Selat Hormuz
Lebih lanjut, ia menyerukan kepada negara-negara tetangga Iran untuk menolak kehadiran pihak luar di kawasan tersebut. Menurutnya, negara-negara regional seharusnya mengambil sikap tegas terhadap pihak yang dianggap sebagai ancaman. Araghchi juga menyebut bahwa perhatian utama Iran tertuju pada Israel, sembari mendesak negara-negara kawasan untuk mengusir agresor asing.
Situasi di kawasan itu semakin memanas setelah Iran secara efektif menutup Selat Hormuz sejak sekitar 1 Maret, menyusul meningkatnya ketegangan dengan AS dan Israel. Penutupan jalur laut vital tersebut mengganggu lalu lintas pengiriman global, termasuk distribusi minyak dan komoditas penting lainnya.
Gangguan terhadap pelayaran di selat itu telah mendorong kenaikan harga minyak dunia dan pupuk, sekaligus meningkatkan kekhawatiran tentang stabilitas pasokan energi global. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur yang dilalui sebagian besar ekspor minyak dari kawasan Teluk menuju pasar internasional.
WASHINGTON, 14 Maret (Xinhua) -- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Sabtu (14/3) mengatakan di media sosial bahwa (Antara)
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa negara-negara yang bergantung pada pengiriman minyak melalui jalur tersebut seharusnya ikut bertanggung jawab menjaga keamanan rute pelayaran tersebut. Ia menambahkan bahwa Amerika Serikat siap memberikan dukungan dalam upaya pengamanan itu.
Sebelumnya, Trump juga mengungkapkan bahwa Angkatan Laut AS dapat segera mulai mengawal kapal-kapal tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz. Ia menyebut langkah tersebut sebagai bagian dari upaya memastikan arus perdagangan energi tetap berjalan.
Dalam wawancara dengan stasiun televisi Amerika, MS Now TV, Araghchi menegaskan bahwa jalur pelayaran tersebut masih dapat digunakan oleh kapal dari negara yang tidak berafiliasi dengan AS maupun Israel. Ia mengatakan bahwa selat tersebut terbuka bagi kapal yang bukan milik kedua negara itu atau sekutunya.
Baca Juga: Kemenlu: Pencarian 3 WNI Hilang di Selat Hormuz Masih Berlangsung
"Kapal-kapal lain bebas untuk lewat," tambahnya.
Ketegangan di kawasan Timur Tengah meningkat tajam sejak AS dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan sedikitnya 1.300 orang di Iran, termasuk pemimpin tertinggi saat itu, Ali Khamenei.
Sebagai balasan, Teheran meluncurkan serangan menggunakan drone dan rudal yang menargetkan sejumlah wilayah, termasuk Israel, Yordania, Irak, serta beberapa negara Teluk yang menampung aset militer AS. Serangan tersebut menimbulkan korban jiwa, merusak infrastruktur, serta mengganggu stabilitas pasar global dan aktivitas penerbangan internasional.
Api keluar dari kapal kargo setelah diserang di Selat Hormuz pada 11 Maret 2026. (ANTARA/Xinhua/Handout Royal Thai Navy) (Antara)