Ntvnews.id, Seoul - Kantor kepresidenan Korea Selatan menyatakan akan mengkaji secara serius permintaan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terkait pengiriman kapal ke Selat Hormuz.
Dilansir dari Yonhap, Senin, 16 Maret 2026, seorang pejabat dari kantor kepresidenan menyebut pemerintah Seoul tengah mencermati pernyataan Trump yang disampaikan melalui media sosial mengenai kondisi jalur pelayaran strategis tersebut.
Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu rute utama pengiriman minyak dunia di kawasan Teluk yang saat ini dilaporkan ditutup oleh Iran di tengah konflik dengan Amerika Serikat dan Israel.
Pada Sabtu sebelumnya, Trump menyerukan kepada Korea Selatan serta sejumlah negara lain yang terdampak oleh situasi di selat tersebut untuk mengirimkan kapal guna menjaga jalur pelayaran tetap aman.
Ia menekankan pentingnya langkah itu agar rute maritim vital tersebut tetap terbuka dan aman, di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap kelancaran distribusi minyak global.
Baca Juga: Iran Tegaskan Selat Hormuz Tetap Terbuka, Kecuali bagi Kapal AS, Israel dan Sekutunya
Dalam pernyataannya, Trump juga menyebut beberapa negara lain yang dinilai ikut terdampak oleh situasi di Selat Hormuz, termasuk China, Prancis, Jepang, dan Inggris. Menurutnya, negara-negara tersebut terkena dampak dari pembatasan sepihak yang dilakukan Iran terhadap jalur pelayaran tersebut.
Menanggapi situasi itu, pejabat kantor kepresidenan Korea Selatan menegaskan bahwa keamanan jalur pelayaran internasional merupakan kepentingan bersama banyak negara. Ia menekankan pentingnya menjaga kebebasan navigasi di perairan internasional.
WASHINGTON, 14 Maret (Xinhua) -- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Sabtu (14/3) mengatakan di media sosial bahwa (Antara)
"Keamanan jalur maritim internasional dan kebebasan navigasi sejalan dengan kepentingan semua negara dan dilindungi oleh hukum internasional," kata pejabat itu.
Pemerintah Korea Selatan juga berharap situasi di jalur pelayaran global segera kembali stabil agar distribusi logistik internasional tidak terganggu lebih lama.
"Berdasarkan hal itu, kami berharap jaringan logistik maritim global segera kembali normal," katanya.
Ilustrasi Korea Selatan. /ANTARA/Anadolu/py (Antara)