Ntvnews.id, Washington – Pemerintah Iran menegaskan bahwa Selat Hormuz masih terbuka untuk pelayaran internasional. Namun, pembatasan akses disebut hanya berlaku bagi kapal yang berasal dari Amerika Serikat, Israel, serta negara-negara yang menjadi sekutu mereka.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyampaikan bahwa jalur pelayaran strategis tersebut tidak sepenuhnya ditutup.
“Selat Hormuz terbuka. Selat itu hanya ditutup untuk kapal tanker dan kapal milik musuh-musuh kita, untuk mereka yang menyerang kami dan sekutu mereka. Yang lain bebas melintas,” kata Araghchi kepada penyiar MS Now, Sabtu, 14 Maret 2026.
Baca Juga: Trump Ancam Hantam Infrastruktur Minyak Iran Jika Selat Hormuz Tetap Tutup
Araghchi juga menanggapi kekhawatiran sejumlah negara mengenai keamanan pelayaran di kawasan tersebut. Ia menegaskan bahwa kekhawatiran tersebut tidak berkaitan langsung dengan tindakan Iran. Menurutnya, isu keselamatan navigasi yang berkembang saat ini “tidak ada kaitannya” dengan kebijakan Iran.
Ketegangan di kawasan meningkat setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Serangan tersebut menyebabkan kerusakan serta menimbulkan korban sipil di wilayah Iran.
Sebagai respons, Iran melakukan serangan balasan yang menyasar wilayah Israel serta pangkalan militer Amerika Serikat di sejumlah kawasan di Timur Tengah.
Baca Juga: Menteri Energi AS: Militer Belum Siap Kawal Kapal di Selat Hormuz
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur pelayaran strategis yang menghubungkan kawasan Teluk Persia dengan pasar energi dunia.
Jalur ini menjadi rute utama distribusi minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk ke berbagai negara, dengan volume sekitar 20 persen dari total perdagangan global minyak, produk minyak bumi, dan gas alam cair.
(Sumber: Antara)
Arsip foto- Kapal tanker minyak Inggris (Antara)