Ntvnews.id, Washington D.C - Pemerintah Amerika Serikat berencana mengirimkan ribuan personel Marinir serta tambahan kapal perang ke kawasan Timur Tengah. Langkah ini diambil untuk memperkuat kehadiran militer dan dukungan udara ketika Washington meningkatkan operasi militer bersama Israel dalam konflik melawan Iran.
Dilansir dari Reuters, Senin, 16 Maret 2026, menyebut menurut keterangan Pentagon atau Departemen Pertahanan AS, pengerahan tersebut mencakup Unit Ekspedisi Marinir atau Marine Expeditionary Unit (MEU). Unit ini biasanya terdiri atas beberapa kapal perang serta sekitar 5.000 personel Marinir Amerika Serikat.
Sejumlah pejabat AS menyebutkan bahwa MEU yang akan dikirimkan berasal dari kawasan Indo-Pasifik. Selain pasukan, pengerahan tersebut juga melibatkan kapal-kapal amfibi dan sejumlah pesawat tempur guna memperkuat kemampuan militer di kawasan konflik.
Kelompok Siap Tempur Amfibi dan Unit Ekspedisi Marinir yang dikenal sebagai Amphibious Ready Group/Marine Expeditionary Unit (ARG/MEU) umumnya terdiri dari sekitar 2.500 Marinir dan 2.500 personel pelaut yang bertugas mengoperasikan armada laut pendukung.
Baca Juga: Trump: AS Belum Siap Capai Kesepakatan dengan Iran soal Konflik Timur Tengah
Laporan dari The Wall Street Journal yang mengutip sejumlah pejabat Amerika Serikat menyebutkan bahwa kapal perang USS Tripoli yang berbasis di Jepang bersama pasukan Marinir yang berada di dalamnya saat ini sedang menuju kawasan Timur Tengah.
Dalam operasi militer terhadap Iran, sebenarnya Amerika Serikat telah menempatkan sejumlah Marinir di kawasan tersebut. Namun, laporan yang sama menyebutkan bahwa permintaan tambahan pasukan diajukan oleh United States Central Command (CENTCOM), komando militer yang bertanggung jawab atas operasi militer AS di Timur Tengah.
Permintaan tersebut kemudian disetujui oleh Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth.
WASHINGTON, 14 Maret (Xinhua) -- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Sabtu (14/3) mengatakan di media sosial bahwa (Antara)
Konflik di kawasan itu meningkat sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan berskala besar terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Serangan tersebut memicu respons keras dari Teheran.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangkaian serangan menggunakan rudal dan drone yang menargetkan wilayah Israel serta beberapa negara Teluk yang menjadi lokasi penempatan aset militer Amerika Serikat.
Tidak hanya itu, Teheran juga menargetkan kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis bagi perdagangan energi dunia yang kini ditutup sejak konflik tersebut pecah. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas keamanan kawasan sekaligus kelancaran distribusi energi global.
Logo Pentagon, markas pertahanan Amerika Serikat ((Antara))