AHY: Jakarta dan Semarang Alami Penurunan Muka Tanah Terparah

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 4 Mei 2026, 14:36
thumbnail-author
Adiansyah
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
AHY di Kick-Off Meeting Infrastruktur Perlindungan Pesisir Pantura Jawa Terpadu. AHY di Kick-Off Meeting Infrastruktur Perlindungan Pesisir Pantura Jawa Terpadu. (Ntvnews.id/Adiansyah)

Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menyoroti kondisi memprihatinkan wilayah pesisir Pantai Utara (Pantura) Jawa.

Dalam rapat koordinasi bersama kementerian, lembaga, dan kepala daerah, ia mengungkap bahwa penurunan muka tanah (land subsidence) di kawasan ini semakin mengkhawatirkan, terutama di Jakarta dan Semarang.

Menurutnya, laju penurunan permukaan tanah di Pantura mencapai 1 hingga 20 sentimeter per tahun. Kondisi ini diperparah dengan kenaikan muka air laut akibat pemanasan global yang berkisar 0,8 hingga 1,2 sentimeter per tahun.

"Bahwa telah terjadi penurunan permukaan tanah. Ini 1 hingga 20 sentimeter setahun. Paling buruk terjadi di Jakarta dan juga di Semarang," ucapnya dalam sambutan Kick-off Meeting Infrastruktur Perlindungan Pesisir Pantura Jawa Terpadu di gedung Kementerian Kelautan dan Perikanan, Gambir, Jakarta Pusat, Senin, 4 Mei 2026.

Baca Juga: Penanganan Perlintasan Rawan Dipercepat, AHY: Keselamatan Jadi Prioritas Utama

AHY di Kick-Off Meeting Infrastruktur Perlindungan Pesisir Pantura Jawa Terpadu. <b>(Ntvnews.id/Adiansyah)</b> AHY di Kick-Off Meeting Infrastruktur Perlindungan Pesisir Pantura Jawa Terpadu. (Ntvnews.id/Adiansyah)

Fenomena penurunan tanah yang terjadi bersamaan dengan naiknya permukaan laut menciptakan tekanan ganda bagi wilayah pesisir. Dampaknya sudah dirasakan masyarakat, seperti banjir rob yang semakin sering terjadi, khususnya di wilayah Jakarta Utara dan sejumlah kota di sepanjang Pantura.

AHY menegaskan bahwa kondisi ini tidak boleh dianggap sebagai hal yang biasa atau takdir. Pemerintah dan masyarakat harus melakukan berbagai upaya untuk mengatasinya, mulai dari pembangunan infrastruktur hingga pendekatan sosial dan lingkungan yang tepat.

"Tetapi kita harus melawan,dalam tanda petik dengan upaya, dengan ikhtiar sekuat tenaga melalui pendekatan infrastruktur maupun pendekatan sosiologis dan juga ekologis yang tepat sasaran," ungkapnya.

Jika tidak ditangani serius, dampak dari penurunan muka tanah ini berpotensi menimbulkan kerugian besar bagi Indonesia. Wilayah Pantura diketahui menyumbang sekitar 27 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.

Selain itu, kawasan ini juga dihuni sekitar 55 juta penduduk di 20 kabupaten dan 5 kota, dengan sekitar 26 persen tinggal di wilayah pesisir yang paling rentan terdampak.

"Jadi ini masyarakat kita jumlahnya besar. Oleh karena itu, ini adalah urgensi yang kita harapkan mendorong dan menggerakkan kita semua," terang AHY.

x|close