China Mau Bantu Redakan Ketegangan di Selat Hormuz

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 16 Mar 2026, 21:45
thumbnail-author
Chika Prisila Ardala
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian dalam konferensi pers di Beijing, China, Senin 16 Maret 2026. ANTARA/Desca Lidya Natalia/aa. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian dalam konferensi pers di Beijing, China, Senin 16 Maret 2026. ANTARA/Desca Lidya Natalia/aa. (Antara)

Ntvnews.id, 

Beijing - Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian mengatakan negaranya terus membuka komunikasi dengan berbagai pihak untuk membantu meredakan ketegangan yang terjadi di kawasan Selat Hormuz.

Pernyataan tersebut disampaikan Lin Jian saat menanggapi pertanyaan wartawan terkait permintaan Presiden Amerika Serikat Donald Trump agar China turut berperan dalam memulihkan aktivitas pelayaran di selat strategis tersebut.

"Kami terus menjaga komunikasi dengan semua pihak mengenai situasi saat ini dan tetap berkomitmen untuk meredakan ketegangan yang ada," kata Lin Jian dalam konferensi pers di Beijing, Senin 16 Maret 2026.

Sebelumnya pada Minggu 15 Maret 2026, Trump menyebut telah meminta sekitar tujuh negara untuk bergabung dalam koalisi guna mengawal kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz.

Meski tidak merinci negara yang dimaksud, ia menyatakan bahwa negara-negara tersebut sangat bergantung pada pasokan minyak dari Timur Tengah.

Baca Juga: Trump Ditantang Iran: Kalau Berani, Kirim Kapal Perang ke Teluk Persia!

Selain itu, Trump juga menilai China perlu turut membantu memulihkan aktivitas pelayaran di kawasan tersebut.

"Saya pikir China harus membantu juga, karena China mendapat 90 persen dari minyaknya melalui selat ini," kata Presiden AS itu dalam wawancara bersama Financial Times.

Lin Jian menyebut ketegangan yang terjadi di Selat Hormuz dan perairan sekitarnya dalam beberapa waktu terakhir telah berdampak pada jalur perdagangan internasional, khususnya perdagangan energi.

"Sekali lagi, China menyerukan kepada semua pihak untuk segera menghentikan operasi militer, menghindari peningkatan ketegangan lebih lanjut, dan mencegah gejolak regional memberikan dampak yang lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi global," ungkap Lin Jian.

Selain itu, Lin Jian juga menyampaikan bahwa rencana kunjungan Presiden Trump ke Beijing pada 31 Maret hingga 2 April 2026 masih terus diupayakan oleh kedua negara.

"Diplomasi tingkat kepala negara memainkan peran yang tidak tergantikan dalam memberikan arahan strategis bagi hubungan China-Amerika Serikat. Kedua pihak sedang berkomunikasi mengenai kunjungan Presiden Trump ke China," tambah Lin Jian.

Sebelumnya, Trump juga meminta negara-negara anggota NATO untuk mengirimkan kapal perang guna membantu membuka Selat Hormuz, dengan memperingatkan bahwa masa depan NATO bisa menjadi "sangat buruk" apabila sekutu-sekutu Amerika Serikat tidak memberikan dukungan.

Laporan The Wall Street Journal menyebut Gedung Putih berencana mengumumkan pembentukan koalisi multinasional paling cepat pekan ini, dengan melibatkan sejumlah negara seperti Prancis, Jepang, Korea Selatan, Inggris, serta negara lainnya.

Namun, banyak pemerintah dilaporkan masih enggan berkomitmen pada misi tersebut sebelum konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran berakhir karena berbagai risiko yang mungkin terjadi.

Konflik tersebut bermula setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026 yang menyebabkan tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei serta sekitar 1.300 orang lainnya.

Baca Juga: Iran Sebut Rusia dan China Bisa Bantu Redakan Konflik

Iran kemudian membalas dengan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel, Irak, serta sejumlah negara Teluk yang memiliki aset militer Amerika Serikat.

Ketegangan tersebut turut berdampak pada Selat Hormuz yang menjadi jalur penting pengiriman energi dunia.

Selat Hormuz merupakan jalur utama ekspor minyak dari negara-negara produsen energi di kawasan Teluk seperti Arab Saudi, Irak, Kuwait, Qatar, Iran, dan Uni Emirat Arab.

Sekitar 17 juta hingga 20 juta barel minyak per hari melewati selat tersebut, atau setara dengan sekitar seperlima perdagangan minyak dunia. Sebagian besar pasokan itu dikirim ke negara-negara Asia seperti China, India, Jepang, dan Korea Selatan.

(Sumber: Antara)

x|close