Ntvnews.id, Taheran - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sebelumnya mengancam akan menargetkan infrastruktur minyak di Pulau Kharg milik Iran apabila Teheran terus menghalangi kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz.
Di tengah ketegangan tersebut, muncul laporan bahwa Iran kemungkinan akan mengizinkan kapal tanker minyak melewati jalur strategis itu dengan syarat transaksi dilakukan menggunakan mata uang China, yuan.
Dilansir dari CNN International, Senin, 16 Maret 2026, seorang pejabat senior menyebut Iran tengah mempertimbangkan kebijakan baru yang memungkinkan sejumlah terbatas kapal tanker minyak melintasi Selat Hormuz. Namun, minyak yang diangkut kapal tersebut harus diperdagangkan menggunakan yuan China.
Kebijakan tersebut disebut sebagai bagian dari rencana baru Teheran untuk mengatur kembali arus kapal tanker yang melintas di jalur pelayaran penting tersebut di tengah konflik yang masih berlangsung.
Baca Juga: Iran Tegaskan Selat Hormuz Tetap Terbuka, Kecuali bagi Kapal AS, Israel dan Sekutunya
Selama ini, perdagangan minyak internasional hampir seluruhnya menggunakan dolar Amerika Serikat. Pengecualian hanya berlaku pada minyak Rusia yang terkena sanksi internasional, yang diperdagangkan menggunakan rubel atau yuan. Ketegangan di Selat Hormuz telah menimbulkan kekhawatiran di pasar energi global dan mendorong harga minyak mencapai level tertinggi sejak Juli 2022.
Situasi ini juga mendapat perhatian dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Lembaga internasional tersebut memperingatkan bahwa pembatasan lalu lintas kapal di Selat Hormuz dapat berdampak luas terhadap distribusi bantuan kemanusiaan di berbagai wilayah.
Peta Selat Hormuz (Wikipedia Commons) (Antara)
Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Kemanusiaan, Tom Fletcher, menyatakan bahwa gangguan terhadap jalur pelayaran tersebut dapat memicu dampak berantai terhadap distribusi berbagai kebutuhan pokok.
"Ketika kapal berhenti bergerak melalui Selat itu, konsekuensinya menyebar dengan cepat. Makanan, obat-obatan, pupuk, dan persediaan lainnya menjadi lebih sulit untuk dipindahkan dan lebih mahal untuk dikirim," kata Wakil Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Urusan Kemanusiaan, Tom Fletcher.
Baca Juga: Trump Ancam Hantam Infrastruktur Minyak Iran Jika Selat Hormuz Tetap Tutup
Konflik bersenjata yang melibatkan Iran dimulai pada 28 Februari 2026 ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan militer terhadap negara tersebut. Serangan itu menyebabkan pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei, tewas.
Sebagai respons, Iran melancarkan serangan balasan yang menargetkan wilayah Israel serta pangkalan militer Amerika Serikat di sejumlah negara Teluk. Selain itu, Teheran juga menutup Selat Hormuz dan menetapkan sejumlah syarat bagi kapal tanker minyak yang ingin melintas.
Iran bahkan menyatakan kapal-kapal minyak dapat melintasi selat tersebut dengan syarat negara asal kapal tersebut mengusir duta besar Amerika Serikat dan Israel dari wilayah mereka masing-masing.
Ilustrasi - Kapal tanker melintas di Selat Hormuz, Iran. (ANTARA/Anadolu/py.) (Antara)