Ntvnews.id, Paris - Prancis dilaporkan menyusun rancangan kesepakatan damai untuk mengakhiri konflik antara Israel dan Lebanon. Proposal tersebut mencakup kemungkinan langkah awal dari Beirut untuk mengakui keberadaan Israel sebagai bagian dari upaya meredakan ketegangan di kawasan.
Menurut laporan Axios yang mengutip tiga sumber yang mengetahui pembahasan tersebut, rancangan kesepakatan itu saat ini tengah dipelajari oleh pemerintah Israel dan Amerika Serikat.
Inisiatif ini muncul setelah Presiden Prancis Emmanuel Macron menyatakan kesediaan negaranya menjadi tuan rumah perundingan damai guna mencegah Lebanon semakin terjerumus ke dalam krisis. Pertemuan diplomatik tersebut direncanakan berlangsung di Paris.
Dilansir dari Axios, Senin, 16 Maret 2026 menyebut bahwa Israel dan Lebanon akan memulai proses perundingan dengan dukungan Amerika Serikat dan Prancis. Tahap awal negosiasi akan dilakukan oleh diplomat senior dari kedua negara sebelum kemudian dilanjutkan ke tingkat pimpinan politik.
Dalam rancangan yang diajukan Prancis, Lebanon disebut akan diminta memberikan pengakuan awal terhadap Israel serta menyatakan komitmen untuk menghormati kedaulatan dan integritas wilayah negara tersebut.
Baca Juga: Indonesia Kecam Serangan Israel ke Lebanon, Nilai Langgar Hukum Internasional
Selain itu, Beirut juga diharuskan menyampaikan kesiapan untuk membahas kemungkinan perjanjian non-agresi dengan Israel.
Sumber yang dikutip Axios menyebutkan bahwa kesepakatan tersebut ditargetkan dapat ditandatangani dalam waktu dua bulan. Jika berhasil dicapai, perjanjian tersebut berpotensi mengakhiri status perang formal antara Israel dan Lebanon yang telah berlangsung sejak 1948.
Setelah perjanjian non-agresi tercapai, Israel disebut akan menarik pasukan militernya dari lima lokasi di Lebanon selatan yang telah diduduki sejak November 2024.
Kedua negara juga direncanakan kembali menegaskan komitmen mereka terhadap UN Security Council Resolution 1701 yang dikeluarkan pada 2006, serta perjanjian gencatan senjata yang disepakati pada 2024.
Arsip foto - Bendera nasional Lebanon (kanan) dan bendera Hizbullah. Furkan Güldemir. ANTARA/Anadolu Agency/pri. (Antara)
Tahapan terakhir dari rencana yang disusun Prancis mencakup penetapan batas wilayah antara Israel dan Lebanon, serta antara Lebanon dan Suriah, yang ditargetkan selesai sebelum akhir 2026.
Menurut laporan yang sama, Presiden Lebanon Joseph Aoun telah menunjuk tim khusus untuk mempersiapkan kemungkinan dimulainya negosiasi dengan Israel.
Di pihak Israel, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dilaporkan menugaskan mantan kepala perencanaan strategis, Ron Dermer, untuk menangani urusan Lebanon selama konflik berlangsung.
Dermer disebut tetap berkoordinasi dengan pemerintahan Presiden AS Donald Trump serta akan memimpin setiap proses negosiasi dengan pemerintah Lebanon jika pembicaraan langsung dimulai dalam beberapa pekan mendatang.
Baca Juga: Israel Diduga Gunakan Fosfor Putih dalam Serangan di Lebanon
Ketegangan antara kedua negara kembali meningkat setelah kelompok militan Hezbollah melancarkan operasi militer terhadap Israel pada awal Maret, menyusul pembunuhan pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei.
Sebagai respons, militer Israel melancarkan serangan intensif yang menyasar pinggiran selatan Beirut serta puluhan kota dan desa di wilayah selatan dan timur Lebanon.
Data resmi pemerintah Lebanon mencatat bahwa konflik terbaru tersebut telah menyebabkan sedikitnya 570 orang meninggal dunia, 1.444 orang mengalami luka-luka, dan sekitar 800.000 warga terpaksa mengungsi dari tempat tinggal mereka.
Ilustrasi- Bendera Prancis (Antara)