Trump Jamin Netanyahu Tak Bakal Caplok Tepi Barat

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 10 Feb 2026, 20:02
thumbnail-author
Naurah Faticha
Penulis
thumbnail-author
Tim Redaksi
Editor
Bagikan
Presiden AS Donald Trump (kiri) menyambut Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Gedung Putih di Washington, D.C., Amerika Serikat, pada 29 September 2025. Presiden AS Donald Trump (kiri) menyambut Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Gedung Putih di Washington, D.C., Amerika Serikat, pada 29 September 2025. (ANTARA)

Ntvnews.id, Washington - Seorang pejabat Gedung Putih menegaskan pada Senin, 9 Februari 2026, bahwa Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tetap menentang aneksasi alias pencaplokan wilayah Tepi Barat oleh Israel, dua hari menjelang rencana kunjungan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ke Washington.

"Tepi Barat yang stabil membuat Israel tetap aman dan sejalan dengan tujuan pemerintahan ini untuk mencapai perdamaian di kawasan tersebut," ujar pejabat itu. 

Trump telah beberapa kali menegaskan bahwa dirinya tidak akan mengizinkan Israel menganeksasi Tepi Barat, yang dipandang sebagai "garis merah" bagi para pemimpin Arab dan merupakan elemen penting dari kesepakatan damai rancangan AS yang mengakhiri konflik Israel-Palestina tahun lalu.

"Saya tidak akan mengizinkan Israel menganeksasi Tepi Barat. Saya tidak akan mengizinkannya. Itu tidak akan terjadi," ujar Trump kepada awak media di Gedung Putih pada September.

Baca Juga: PBB: Gaza Masih Alami Krisis Air Meski Pasokan dari Israel Dibuka Kembali

Pemimpin otoritas Israel Benjamin Netanyahu (kiri) bersama Presiden AS Donald Trump. ANTARA/Anadolu/py/pri. <b>(Antara)</b> Pemimpin otoritas Israel Benjamin Netanyahu (kiri) bersama Presiden AS Donald Trump. ANTARA/Anadolu/py/pri. (Antara)

Laporan itu menyebutkan bahwa Trump menentang aneksasi resmi wilayah itu, meskipun tidak menegaskan akan menghalangi semua perluasan permukiman. Presiden AS diperkirakan akan mengadakan pembicaraan dengan Netanyahu mengenai Iran di Gedung Putih pada Rabu, 11 Februari 2026, menurut pernyataan singkat dari kantor Netanyahu. Kedua pemimpin terakhir kali bertemu pada Desember 2025.

Kabinet keamanan Israel pada Minggu, 8 Februari 2026, menyetujui keputusan untuk memperdalam kendali atas Tepi Barat dan memperluas permukiman Yahudi, langkah yang memicu kecaman luas. Para menteri luar negeri dari delapan negara Arab dan Muslim pada Senin mengecam keras keputusan "ilegal" Israel tersebut.

Uni Eropa (UE) dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga menyuarakan penolakan, menyebut langkah Israel sebagai "langkah lain ke arah yang salah" dan "tidak memiliki keabsahan hukum."

Israel merebut Tepi Barat, Yerusalem Timur, dan Jalur Gaza dalam Perang Timur Tengah 1967, wilayah yang secara luas diakui sebagai basis negara Palestina di bawah solusi dua negara.

Baca Juga: Israel Tegaskan Siap Serang Iran Tanpa Persetujuan AS

(Sumber: Antara) 

x|close