Ntvnews.id, Jakarta - Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kementerian Agama Arsad Hidayat menyatakan potensi perbedaan penetapan awal Ramadhan di Indonesia merupakan hal yang lumrah dan telah berulang kali terjadi. Kondisi tersebut muncul akibat perbedaan metode dan sudut pandang yang digunakan organisasi kemasyarakatan Islam dalam menentukan awal bulan hijriah.
“Sebenarnya kalau berbeda itu biasa gitu, karena cara pandang kemudian cara penetapan dari ormas-ormas Islam tersebut tidak sama,” ujar Arsad di Jakarta, Selasa, 10 Februari 2026.
Arsad menjelaskan, penentuan awal Ramadhan di Indonesia dilakukan melalui sejumlah pendekatan. Sebagian ormas Islam menggunakan metode hisab atau perhitungan astronomi, sebagian lain menggunakan rukyatul hilal atau pengamatan langsung, sementara pendekatan yang lebih baru mengacu pada konsep Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).
“Kalau istilahnya Prof Thomas Djamaluddin (astronom BRIN) itu, ada hilal global dan hilal lokal. Jelas kalau hilal lokal dengan hilal global, itu sudah pasti berbeda,” katanya.
Untuk menyikapi perbedaan tersebut, pemerintah melalui Kementerian Agama memiliki mekanisme sidang isbat sebagai forum musyawarah. Dalam forum ini, seluruh organisasi kemasyarakatan Islam diundang untuk menyampaikan pandangan dan dasar penetapan masing-masing.
“Kita undang seluruh ormas Islam, baik Muhammadiyah, NU, Persis, dan yang lain. Kita dengarkan pandangan mereka, kemudian dimusyawarahkan dan diambil keputusan yang maslahat,” ujarnya.
Hasil sidang isbat, lanjut Arsad, menjadi dasar resmi penetapan awal bulan suci Ramadhan oleh pemerintah. Ia juga mengimbau masyarakat agar menyikapi kemungkinan perbedaan dengan sikap saling menghargai dan memahami.
“Perbedaan itu wajar dan kita harus terlatih untuk menghormati perbedaan-perbedaan tersebut,” kata Arsad.
Berdasarkan perhitungan hisab, ijtimak atau konjungsi menjelang Ramadhan 1447 Hijriah terjadi pada Selasa, 17 Februari 2026, pukul 19.01 WIB. Saat matahari terbenam, posisi hilal di seluruh wilayah Indonesia masih berada di bawah ufuk, dengan ketinggian antara minus 2 derajat 24 menit 42 detik hingga minus 0 derajat 58 menit 47 detik serta sudut elongasi berkisar 0 derajat 56 menit 23 detik hingga 1 derajat 53 menit 36 detik.
Data tersebut menunjukkan hilal belum memenuhi kriteria visibilitas yang digunakan, seperti kriteria Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS), yang mensyaratkan tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat.
Di sisi lain, Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah menetapkan 1 Ramadhan 1447 Hijriah jatuh pada Rabu Legi, 18 Februari 2026. Keputusan ini didasarkan pada hasil hisab hakiki Majelis Tarjih dan Tajdid yang berpedoman pada prinsip dan parameter Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) sebagaimana tercantum dalam Maklumat Nomor 2/MLM/I.0/E/2025.
Secara astronomis, ijtimak menjelang Ramadhan juga tercatat terjadi pada Selasa, 17 Februari 2026, pukul 12.01.09 UTC. Pada saat matahari terbenam di hari yang sama, kriteria visibilitas hilal Parameter Kalender Global (PKG) yang mensyaratkan tinggi bulan minimal 5 derajat dan elongasi minimal 8 derajat sebelum tengah malam UTC belum terpenuhi di wilayah mana pun di dunia.
(Sumber: Antara)
Direktur Urusan Agama Islam Kementerian Agama Aesad Hidayat. ANTARA/Asep Firmansyah (Antara)