Ntvnews.id, Teheran - Abbas Araghchi selaku Menteri Luar Negeri Iran mengakui adanya ranjau di Selat Hormuz dan menyebut kondisi tersebut menjadi alasan kapal-kapal yang melintas wajib berkoordinasi dengan pihak Teheran.
"Kapal-kapal yang ingin melewati Selat Hormuz jelas harus berkoordinasi dengan militer kami, karena adanya ranjau dan rintangan yang ada. Kami akan membimbing mereka, seperti yang telah kami lakukan dengan sejumlah kapal India. Navigasi yang aman adalah kebijakan kami," kata Abbas Araghchi dalam konferensi pers.
Baca Juga: Iran Beri Izin Kapal China Melintas di Selat Hormuz
Sebelumnya dilaporkan sebanyak 30 kapal telah melintas di Selat Hormuz sejak Rabu malam, 13 Mei 2026 di bawah pengawasan Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran.
Data dari platform pelacakan kapal Marine Traffic menunjukkan sedikitnya empat kapal yang terkait dengan China melintasi jalur tersebut dalam 24 jam terakhir melalui koridor pelayaran “aman” milik Iran.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur maritim paling penting di dunia untuk distribusi minyak dan gas.
Jalur tersebut praktis tertutup bagi sebagian besar kapal sejak dimulainya serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari 2026.
Baca Juga: Kapal China Mulai Lintasi Selat Hormuz di Bawah Pengawasan Iran
Kondisi itu menyebabkan arus pengiriman energi dan kargo global mengalami gangguan signifikan.
Sementara itu, gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran mulai berlaku pada 8 April 2026 melalui mediasi Pakistan.
Namun, proses perundingan di Islamabad belum menghasilkan kesepakatan jangka panjang.
Gencatan senjata tersebut kemudian diperpanjang oleh Donald Trump tanpa batas waktu yang ditentukan.
(Sumber: Antara)
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. (ANTARA/Ahmet Serdar Eser/Anadolu/pri.) (Antara)