Ntvnews.id, Singapura - Otoritas kesehatan di sejumlah negara Asia, termasuk Malaysia, Thailand, dan Vietnam, meningkatkan kewaspadaan dalam beberapa hari terakhir menyusul merebaknya wabah virus Nipah yang mematikan di negara bagian West Bengal, India. Hingga kini, belum ada laporan kasus di luar India, namun langkah-langkah pencegahan diperketat di berbagai negara di kawasan tersebut.
Virus Nipah merupakan virus zoonotik yang dapat menular dari hewan ke manusia, baik melalui kontak langsung, penularan antarmanusia, maupun konsumsi makanan yang terkontaminasi.
Gejala infeksi bervariasi, mulai dari tanpa gejala, gangguan pernapasan akut, hingga peradangan otak yang berisiko fatal. Kelelawar buah diketahui sebagai inang alami virus ini, meskipun sejumlah hewan lain seperti babi, kucing, kambing, kuda, dan domba juga dapat terinfeksi.
Ahli penyakit menular Leong Hoe Nam menjelaskan bahwa penularan dapat terjadi melalui kontak langsung dengan hewan inang yang terinfeksi maupun cairan tubuhnya. Selain itu, virus juga bisa menyebar melalui kontak dekat dengan orang yang terinfeksi atau cairan tubuh pasien.
Virus Nipah pertama kali teridentifikasi pada periode 1998–1999 saat wabah menyerang peternak babi di Malaysia dan Singapura, yang menyebabkan hampir 300 kasus dengan lebih dari 100 kematian.
Baca Juga: Kemlu Pantau Kasus Virus Nipah di India, Pastikan Tak Ada WNI Terinfeksi
Profesor Paul Tambyah, mantan presiden Asia-Pacific Society of Clinical Microbiology and Infection, menyebut virus ini tidak tergolong sangat menular. Ia menegaskan penularan langsung antarmanusia jarang terjadi dan tidak ada catatan penyebaran melalui kontak biasa.
“Pernyataan resmi Kementerian Kesehatan India tentang wabah saat ini menyatakan bahwa hanya ada dua kasus yang dikonfirmasi, meskipun mereka telah memeriksa lebih dari seratus kontak dari kasus indeks," katanya dikutip dari The Straits Times, Kamis, 29 Januari 2026.
"Pada wabah 1999 di Singapura dan Malaysia, tidak ada penularan manusia ke manusia yang signifikan. Situasi di West Bengal sedikit berbeda, kemungkinan karena kombinasi perbedaan antara virus, serta sumber daya yang tersedia di lingkungan yang berbeda.”
Hingga saat ini, belum tersedia vaksin maupun obat yang disetujui untuk mengobati virus Nipah. Penanganan masih berfokus pada perawatan pendukung, termasuk pemantauan neurologis ketat untuk mencegah komplikasi serius seperti kejang dan koma.
Baca Juga: Singapura-Malaysia Kompak Awasi Potensi Penyebaran Virus Nipah
“Telah dilakukan penelitian tentang antivirus, tetapi sulit dilakukan karena virus harus ditangani di laboratorium dengan tingkat keamanan tinggi untuk mencegah kebocoran dari laboratorium ke masyarakat,” tambah Prof Tambyah. Ia juga menilai pasien di Singapura pada wabah 1999 dapat pulih dengan baik karena diagnosis dilakukan lebih awal dan komplikasi berhasil dicegah.
Menurut Prof Tambyah, kunci utama pencegahan penyebaran virus ini adalah pengawasan yang kuat, terutama pada kasus ensefalitis berat atau infeksi pernapasan parah yang penyebabnya belum diketahui.
“Kuncinya adalah pengawasan yang baik,” katanya. Ia menambahkan bahwa hingga kini belum ada laporan penyebaran virus di luar wilayah pedesaan West Bengal, sementara dua kasus terbaru di India diduga melibatkan tenaga kesehatan.
Badan Penyakit Menular (Communicable Diseases Agency/CDA) pada Selasa, 28 Januari 2026, mengimbau masyarakat yang bepergian ke daerah terdampak untuk tetap waspada. Imbauan tersebut mencakup menghindari kontak langsung dengan hewan, terutama kelelawar dan babi, serta menjauhi area sarang kelelawar.
Baca Juga: Antisipasi Virus Nipah, DPR Minta Perkuat Deteksi Dini di Bandara dan Pelabuhan
Masyarakat juga diminta menghindari makanan dan minuman yang berpotensi terkontaminasi, seperti getah kelapa sawit mentah dan buah yang ditemukan di tanah.
Para ahli menekankan pentingnya segera mencari pertolongan medis jika muncul tanda-tanda infeksi otak atau gangguan pernapasan berat.
“Gejala-gejala tersebut meliputi sakit kepala parah, termasuk ‘sakit kepala terparah dalam hidup Anda’, kebingungan, dan kesulitan bernapas,” kata Prof Tambyah.
Petugas kesehatan Thailand memantau penumpang dari penerbangan internasional yang tiba di Bandara Suvarnabhumi pada 25 Januari. (The Straits Times)