Tailan dan Nepal Perketat Skrining Bandara Usai Masuk Zona Risiko Tinggi Virus Nipah

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 27 Jan 2026, 08:05
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Ilustrasi-Virus Marburg Ilustrasi-Virus Marburg (Pixabay)

Ntvnews.id, Bangkok - Tailan dan Nepal kini dikategorikan sebagai wilayah berisiko tinggi terhadap wabah Virus Nipah, penyakit menular yang ditularkan melalui kelelawar buah. Menyikapi kondisi tersebut, otoritas di kedua negara mulai memberlakukan pemeriksaan kesehatan ketat di bandara serta titik-titik perbatasan.

Dilansir dari CNA, Selasa, 27 Januari 2026, kebijakan ini ditempuh sebagai langkah antisipasi awal untuk mencegah kemungkinan penyebaran Virus Nipah lintas negara. Pemeriksaan difokuskan pada pelaku perjalanan internasional, terutama mereka yang berasal dari daerah dengan tingkat risiko penularan yang lebih tinggi.

Otoritas kesehatan Thailand dan Nepal meningkatkan pengawasan dengan melakukan pengecekan suhu tubuh, pemantauan kondisi kesehatan, serta penelusuran riwayat perjalanan para penumpang.

Selain itu, tenaga medis disiagakan untuk mengambil langkah lanjutan apabila ditemukan tanda-tanda yang mengarah pada infeksi Virus Nipah. Prosedur skrining tersebut menjadi bagian dari protokol kesiapsiagaan kesehatan guna mencegah masuknya penyakit menular berbahaya melalui jalur transportasi internasional.

Baca Juga: Menkes Sebut Super Flu Bukan Virus Baru: Sudah Ada Puluhan Tahun

Virus Nipah merupakan penyakit zoonosis yang dapat menular dari hewan ke manusia, terutama melalui kontak langsung dengan hewan terinfeksi atau konsumsi makanan yang telah tercemar. Dalam kondisi tertentu, virus ini juga berpotensi menular antarmanusia.

Infeksi Virus Nipah tergolong berbahaya karena dapat menimbulkan gangguan pernapasan serius hingga peradangan otak atau ensefalitis, dengan tingkat kematian yang relatif tinggi.

Mengutip laporan Bangkok Post, ahli virologi Universitas Chulalongkorn, Yong Poovorawan, menyampaikan bahwa Virus Nipah pertama kali teridentifikasi pada periode 1998–1999. Wabah terbesar tercatat terjadi di Malaysia sebelum menyebar ke Singapura, dengan total 265 kasus infeksi dan 108 di antaranya berujung pada kematian.

Sebanyak delapan orang dilaporkan meninggal dunia di Tanzania, Afrika, akibat dugaan infeksi virus Marburg, menurut Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus pada Rabu 15 Januari 2025. <b>((Antara))</b> Sebanyak delapan orang dilaporkan meninggal dunia di Tanzania, Afrika, akibat dugaan infeksi virus Marburg, menurut Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus pada Rabu 15 Januari 2025. ((Antara))

Gejala awal yang umum muncul pada infeksi Virus Nipah antara lain demam, sakit kepala, nyeri otot, serta mual dan muntah. Pada kasus yang lebih parah, penderita dapat mengalami gangguan pernapasan, kebingungan, kejang, hingga penurunan tingkat kesadaran.

Penerapan skrining di bandara dan perbatasan oleh Thailand dan Nepal mencerminkan pentingnya kewaspadaan global terhadap ancaman penyakit menular. Tingginya mobilitas masyarakat antarnegara meningkatkan risiko penyebaran penyakit lintas wilayah, sehingga deteksi dini menjadi langkah kunci dalam upaya pencegahan.

Masyarakat diimbau untuk tetap tenang namun waspada, menjaga kebersihan diri, serta segera memeriksakan kondisi kesehatan apabila mengalami gejala yang mencurigakan setelah melakukan perjalanan.

x|close