Ntvnews.id, Bangkok - Pasukan Thailand dilaporkan merobohkan rumah-rumah milik warga Kamboja di kawasan perbatasan yang masih disengketakan. Informasi tersebut disampaikan oleh kelompok hak asasi manusia LICADHO pada Selasa, 20 Januari 2026.
Konflik perbatasan yang telah berlangsung puluhan tahun antara dua negara Asia Tenggara itu kembali memanas dan sempat berubah menjadi bentrokan bersenjata beberapa kali sepanjang tahun lalu. Pada Desember 2025, pertempuran tersebut menewaskan puluhan orang serta memaksa sekitar satu juta warga di kedua sisi perbatasan mengungsi.
Kedua negara akhirnya menyepakati gencatan senjata pada akhir Desember lalu, yang mengakhiri pertempuran selama kurang lebih tiga pekan.
Namun, setelah kesepakatan gencatan senjata, otoritas Kamboja menyatakan bahwa pasukan Thailand mengambil alih sejumlah wilayah di empat provinsi perbatasan. Pemerintah Kamboja pun menuntut agar pasukan Thailand ditarik dari kawasan yang diklaim sebagai wilayahnya.
Baca Juga: AS Siapkan Dana Rp758 Miliar Dukung Stabilisasi Pascagencatan Senjata Thailand–Kamboja
Dilansir dari AFP, Rabu, 21 Januari 2026, Militer Thailand membantah tudingan tersebut. Mereka menegaskan tidak menggunakan kekerasan untuk merebut wilayah Kamboja dan menyatakan keberadaan pasukannya berada di area yang sejak lama diklaim sebagai milik Thailand.
LICADHO melaporkan bahwa “sejumlah besar rumah dan bangunan” di wilayah yang dikuasai Thailand di dua desa di Provinsi Banteay Meanchey, Kamboja, “telah dihancurkan dan dibersihkan oleh pasukan Thailand” setelah gencatan senjata pada 27 Desember.
Arsip Foto - Tentara Kamboja berjaga di kawasan perbatasan Oddar Meanchey, Kamboja, Jumat 29 Agustus 2025. ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/rwa/am. (Antara)
“Penghancuran rumah-rumah sipil selama konflik bertentangan dengan Konvensi Jenewa dan hukum hak asasi manusia internasional, terlepas dari sisi perbatasan mana rumah-rumah itu berada,” kata LICADHO dalam pernyataannya.
Organisasi tersebut menjelaskan bahwa aksi penghancuran terjadi di kawasan sengketa yang diklaim oleh kedua negara. Selain itu, rumah-rumah juga dilaporkan dihancurkan di wilayah yang diakui bersama sebagai milik Thailand maupun di area yang diakui sebagai wilayah Kamboja. Temuan itu, menurut LICADHO, didasarkan pada citra satelit Sentinel-2 milik Badan Antariksa Eropa, serta foto dan video yang dipublikasikan media.
“Pembersihan pasca-gencatan senjata tersebut tidak memiliki tujuan militer yang sah,” ujar LICADHO.
Tentara Kamboja berjaga di kawasan perbatasan Prey Chan, Banteay Meanchey, Kamboja, Jumat, 29 Agustus 2025. Meski gencatan senjata masih diberlakukan, penjagaan ketat kawasan perbatasan tetap dilakukan Tentara Kerajaan Kamboja akibat konflik perbatas (Antara)