Ntvnews.id, New Delhi - India berhasil melampaui Jepang dan kini menempati posisi sebagai negara dengan ekonomi terbesar keempat di dunia. Pencapaian ini tercantum dalam perhitungan terbaru pemerintah India yang dipublikasikan melalui laporan tinjauan ekonomi akhir tahun.
Dilansir dari DW, Kamis, 1 Januari 2025, dalam laporan disebutkan, apabila tren pertumbuhan ekonomi saat ini terus berlanjut, India diperkirakan akan menyalip Jerman dan menjadi ekonomi terbesar ketiga dunia dalam tiga tahun mendatang, berada tepat di bawah Amerika Serikat dan China.
Saat ini, produk domestik bruto (PDB) India diperkirakan telah menembus US$4,18 triliun atau sekitar Rp70 ribu triliun, dan diproyeksikan meningkat hingga US$7,3 triliun atau sekitar Rp122 ribu triliun pada 2030. Dengan angka tersebut, India diperkirakan akan menjadi kekuatan ekonomi global terbesar ketiga berdasarkan ukuran ekonomi.
Pertumbuhan ekonomi India juga menunjukkan penguatan. Pada kuartal kedua tahun fiskal 2025–2026, PDB riil India tumbuh sebesar 8,2 persen, naik dari 7,8 persen pada kuartal sebelumnya dan menjadi capaian tertinggi dalam enam kuartal terakhir.
Baca Juga: 7 Ekor Gajah Mati Tertabrak Kereta Api di India
Dari sisi perdagangan, kinerja ekspor ikut membaik. Nilai ekspor barang India meningkat menjadi US$38,13 miliar atau sekitar Rp636 triliun pada November, dari US$36,43 miliar atau sekitar Rp608 triliun pada Januari. Peningkatan ini ditopang oleh ekspor barang teknik, elektronik, farmasi, serta produk minyak bumi.
Meski demikian, kepastian resmi mengenai posisi India sebagai ekonomi keempat terbesar dunia masih menunggu rilis data PDB tahunan final pada 2026. Dana Moneter Internasional (IMF) juga memproyeksikan India akan melampaui Jepang pada tahun depan.
Bank Sentral India atau Reserve Bank of India (RBI) turut menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi untuk tahun fiskal 2025–2026 menjadi 7,3 persen.
Pemerintah India menilai lonjakan ekonomi tersebut terutama digerakkan oleh permintaan domestik, khususnya konsumsi swasta yang kuat, meskipun ketidakpastian perdagangan dan kebijakan global masih berlangsung.
Laporan itu menggambarkan kondisi ekonomi India berada dalam fase langka “Goldilocks”, yakni pertumbuhan tinggi yang disertai inflasi relatif rendah. Kondisi keuangan perusahaan yang solid, aliran kredit yang stabil, serta reformasi struktural dinilai menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan jangka panjang.
India (Istimewa)
"India termasuk salah satu negara dengan ekonomi besar yang pertumbuhannya tercepat di dunia dan berada pada posisi yang baik untuk mempertahankan momentum ini," demikian pernyataan dalam laporan tersebut.
Dengan target mencapai status negara berpendapatan menengah-atas pada 2047, bertepatan dengan 100 tahun kemerdekaannya, India disebut tengah memperkuat fondasi melalui pertumbuhan ekonomi, reformasi struktural, dan kemajuan sosial.
Namun demikian, tantangan masih membayangi. Kesenjangan pendapatan dengan negara maju tetap lebar. Data Bank Dunia menunjukkan PDB per kapita India pada 2024 berada di level US$2.694 atau sekitar Rp45 juta, sekitar 12 kali lebih rendah dibanding Jepang dan hampir 20 kali lebih rendah dari Jerman.
India juga kini menjadi negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia setelah melampaui China pada 2023. Lebih dari seperempat dari total 1,4 miliar penduduknya berusia antara 10 hingga 26 tahun.
Penyediaan lapangan kerja berkualitas bagi jutaan generasi muda menjadi tantangan besar ke depan. Meski begitu, pemerintah tetap optimistis.
Baca Juga: Kerumunan Orang Tumpah di Bandara India hingga Pukul 3 Pagi, Sambut Kedatangan Lionel Messi
"Sebagai salah satu negara termuda di dunia, kisah pertumbuhan India akan sangat ditentukan oleh kemampuannya menciptakan lapangan kerja berkualitas yang mampu menyerap tenaga kerja secara produktif dan mendorong pertumbuhan yang inklusif serta berkelanjutan," tulis laporan tersebut.
Pada tahun ini, Perdana Menteri Narendra Modi meluncurkan pemangkasan besar pajak konsumsi serta mendorong reformasi undang-undang ketenagakerjaan, menyusul perlambatan ekonomi yang sempat mencapai titik terendah dalam empat tahun terakhir.
Tekanan juga muncul dari sisi nilai tukar. Rupee India sempat menyentuh level terendah sepanjang sejarah terhadap dolar AS pada awal Desember, setelah melemah sekitar 5 persen sepanjang 2025. Pelemahan ini dipicu kekhawatiran atas belum tercapainya kesepakatan dagang dengan Washington serta dampak kenaikan tarif terhadap produk India.
Sebelumnya, India menempati posisi ekonomi terbesar kelima dunia pada 2022, setelah PDB-nya melampaui Inggris, negara yang pernah menjadi penguasa kolonialnya.
Ilustrasi - Foto bendera India. (ANTARA/Shutterstock)