Ntvnews.id, Jakarta - Pemerintah menyiapkan berbagai langkah pengendalian harga dan ketersediaan pangan guna menjaga inflasi tetap stabil menjelang Ramadan dan Idul Fitri 2026.
Berdasarkan data Badan Pangan Nasional (Bapanas) per 6 Januari 2026, stok dan produksi sejumlah komoditas utama dinilai mencukupi untuk memenuhi kebutuhan selama Januari hingga Maret 2026.
Stok awal beras tercatat sebesar 12,4 juta ton, dengan produksi Januari–Maret mencapai 9,8 juta ton dan kebutuhan sekitar 7,7 juta ton, sehingga masih terdapat surplus. Ketersediaan pangan hewani seperti daging ayam ras, telur ayam ras, serta daging sapi dan kerbau juga dilaporkan dalam kondisi aman untuk menopang kebutuhan Ramadan.
Baca Juga: Ekonom Bank Mandiri: Tekanan Inflasi Awal 2026 Masih dalam Batas Aman
Dalam rangka menjaga stabilitas harga, pemerintah menindak pelaku usaha yang menjual komoditas di atas harga eceran tertinggi (HET) dan harga pokok penjualan (HPP). Selain itu, program Gerakan Pangan Murah (GPM) serta Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) terus digencarkan di berbagai daerah, disertai peningkatan pengawasan guna mencegah praktik penimbunan pangan strategis.
Kepala Badan Pangan Nasional Andi Amran Sulaiman menegaskan, “Pemerintah berkomitmen memastikan harga pangan tetap sesuai dengan HET, mulai sekarang hingga Ramadan selesai.” Kebijakan tersebut diharapkan mampu melindungi daya beli masyarakat, membuat pengeluaran rumah tangga lebih terprediksi, serta mendukung pemenuhan gizi keluarga selama menjalankan ibadah puasa.
Berikut Infografiknya:
Pemerintah menyiapkan upaya pengendalian harga dan ketersediaan pangan guna menjaga inflasi tetap stabil, terutama menjelang Ramadhan dan Idul Fitri 2026. (Antara)
Baca Juga: Strategi Pramono Kendalikan Inflasi, Ekonomi Jakarta Tetap Stabil di Akhir 2025
Pemerintah menyiapkan upaya pengendalian harga dan ketersediaan pangan guna menjaga inflasi tetap stabil, terutama menjelang Ramadhan dan Idul Fitri 2026. (Antara)