Trump Pertimbangkan Opsi Lakukan Serangan ke Iran

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 12 Jan 2026, 10:00
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Arsip - Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (ANTARA/Anadolu/py) Arsip - Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (ANTARA/Anadolu/py) (Antara)

Ntvnews.id, Washington D.C - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan telah menerima pemaparan terkait sejumlah opsi serangan terhadap Iran, seiring meluasnya gelombang aksi protes di negara tersebut.

Dilansir dari NY Times, Senin, 12 Januari 2026, yang mengutip beberapa pejabat senior AS, menyebut bahwa Trump tengah menelaah opsi-opsi itu secara serius, meski hingga kini belum menetapkan keputusan akhir.

Opsi yang disampaikan kepada Trump antara lain mencakup kemungkinan serangan ke target non-militer di Teheran, ibu kota Iran. Beberapa skenario lainnya juga melibatkan tindakan terhadap aparat keamanan Iran yang menangani unjuk rasa.

Meski demikian, otoritas Amerika Serikat disebut memahami bahwa langkah tersebut berpotensi menimbulkan efek berbalik, termasuk kemungkinan serangan balasan terhadap personel militer maupun diplomat AS di kawasan Timur Tengah.

Baca Juga: Trump Ngotot Caplok Greenland, Tak Peduli Lewat Cara Mudah atau Sulit

Seorang pejabat tinggi militer AS mengatakan kepada The New York Times bahwa apabila serangan ke Iran disetujui, para komandan militer di kawasan memerlukan waktu untuk menyiapkan sistem pertahanan guna menghadapi potensi aksi balasan.

Menanggapi laporan itu, Gedung Putih merujuk pada pernyataan Trump sebelumnya yang memperingatkan otoritas Iran mengenai konsekuensi apabila terdapat demonstran yang tewas dalam kerusuhan.

Pada Sabtu lalu, Trump menyatakan kesiapan Amerika Serikat untuk “membantu” Iran. Pada hari yang sama, Reza Pahlavi, putra Shah Iran yang digulingkan pada 1979, mengunggah video di platform X yang menyerukan pemogokan umum di Iran.

Demo Iran <b>(Anadolu)</b> Demo Iran (Anadolu)

Pahlavi menyebut tujuan aksi tersebut sebagai persiapan untuk merebut dan menduduki jalan-jalan serta fasilitas strategis. Sebelumnya, ia juga secara terbuka meminta Trump agar melakukan intervensi di Iran.

Sejak 8 Januari, gelombang demonstrasi di Iran dilaporkan meningkat menyusul seruan tersebut. Sejumlah rekaman video di media sosial menunjukkan aksi protes berskala besar di berbagai kota. Pada hari yang sama, akses internet di Iran dilaporkan terputus.

Baca Juga: Trump Yakin China Tak Akan Rebut Taiwan Selama Ia Menjabat Presiden

Aksi protes itu bermula pada akhir Desember 2025 akibat anjloknya nilai mata uang lokal. Para demonstran menyoroti fluktuasi tajam nilai tukar rial serta dampaknya terhadap harga grosir dan eceran. Video demonstrasi di Teheran dan sejumlah kota lain kemudian menyebar luas di media sosial.

Di tengah kondisi tersebut, Gubernur Bank Sentral Iran Mohammad-Reza Farzin mengundurkan diri. Di beberapa kota, unjuk rasa berkembang menjadi bentrokan dengan aparat kepolisian dan disertai seruan untuk menentang sistem politik yang berlaku.

Jumlah korban tewas akibat protes di Iran dilaporkan meningkat menjadi 65 orang, berdasarkan laporan Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia Iran (HRANA) pada Sabtu.

x|close